
PEMBELAJARAN MENYENANGKAN
Oleh: Dra Farida Hanum M.Pd
MI.Asasul Huda Randegan
Guru seharusnya mumpuni dalam segala hal, karena sejatinya guru harus memiliki kompetensi pedagogik, professional, sosial dan kepribadian. Tidak hanya itu, menjadi guru di era revolusi industry 4.0 dituntut untuk memiliki kompetensi yang bisa mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, Karena kita tahu bahwa era revolusi industry 4.0 yang ditandai dengan hadirnya tehnologi baru seperti; komputer super, kecerdasan buatan (artificial intellegency), system siber serta kolaborasi manufaktur, mengharuskan guru cakap dan mampu memanfaatkan kecanggihan tehnologi digital dalam setiap proses pembelajaran. Dan yang paling penting guru harus selalu meng-upgrade kompetensi yang ia miliki, sehingga ia siap menghadapi generasi milenial yang mayoritas sudah terbiasa dengan dunia digital.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, guru juga dituntut untuk lebih adaptif, inovatif, kreatif serta kritis dalam proses pembelajaran. Adaptif berarti guru harus mampu menyesuaikan diri sesuai dengan keadaan kekinian. Seperti mengembangkan pembelajaran secara terus menerus dengan mengikuti kemajuan tehnologi dan ilmu pengetahuan. Melakukan perbaikan terhadap Segala hal yang terkait dengan pembelajaran, baik kompetensi yang ingin dicapai, alat dan media pembelajaran maupun metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Inovatif berarti guru harus memiliki kemampuan untuk berkreasi, memiliki kemampuan untuk memperkenalkan sesuatu yang baru atau pembaharuan dan modifikasi dalam pembelajaran yang berupa alat, media, metode tekhnik dalam penyampaian materi kepada peserta didik sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai. Kreatif mempunyai makna memiliki daya cipta, suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu dengan kecerdasan dan imajinasinya. Guru dituntut untuk mampu berkreasi menciptakan inovasi baru atau pembaharuan dari sesuatu yang sudah ada, dengan demikian pembelajaran tidak stagnan atau monoton. Dengan kreatifitas seorang guru, pembelajaran akan menjadi hidup dan mudah diterima oleh peserta didik serta memberi dampak perubahan perilaku dan memiliki kemampuan berfikir kritis dan membangun. Dengan demikian kompetensi yang dibutuhkan generasi digital, saat ini akan bisa terpenuhi.
Untuk memperkaya pengalaman belajar peserta didik (Learning Experience), guru harus memiliki kreatifitas untuk mengelolah dan memanfaatkan model pembelajaran yang bervariasi, guru bisa memanfaakan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning), pembelajaran berbasis keingintahuan (Inquiry Based Learning), model pembelajaran silang (jigsaw) ataupun model kelas terbalik (Flipped Classroom) dsb. Diharapkan melalui pengalaman belajar, peserta didik diharapkan bisa memahami hubungan antara ilmu yang dipelajari di sekolah dengan kehidupan dunia nyata, dengan demikian peserta didik akan mampu menerapkan ilmunya untuk mencari solusi permasalahan dalam kehidupan nyata.
Happy selling merupakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) cocok diterapkan dalam pembelajaran K 13 terutama pembelajaran tematik di Sekolah Dasar (SD). Selain sebagai alternatif pembelajaran yang menyenangkan, happy selling juga memberikan pengalaman belajar peserta didik di dunia nyata (real world). Dengan variasi pembelajaran, peserta didik akan makin bersemangat untuk belajar dan berkarya. Konsep Happy Selling adalah kegiatan berjualan yang mengedepankan joyfull learning, merupakan kolaborasi antara orang tua dan anak untuk menjual kebutuhan anak baik makanan ataupun kebutuhan sekolah hasil karya orang tua dan anak. Secara otomatis baik makanan maupun kebutuhan sekolah anak harus sehat, aman, dan tentu saja bermanfaat untuk anak. Karena mayoritas pembeli adalah anak-anak. Barang dagangan tersebut harus dibuat oleh orang tua berkolaborasi dengan anak, dari mulai menciptakan kreatifitas barang dagangan, menjajakan dagangannya, sampai pada proses kegiatan bertransaksi, semua dilakukan dengan mengikut sertakan anak terlibat di dalamnya. Happy selling akan dapat berjalan dengan baik manakala ada dukungan dari orang tua. Melalui paguyuban wali murid, guru bisa melakukan proses komunikasi tentang rencana kegiatan tersebut, serta tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan happy selling. Komunikasi antara orang tua dan guru merupakan kegiatan yang memanfaatkan kecanggihan tehnologi, melalui group whatsapp orang tua dapat dengan mudah menjalin komunikasi, sehingga segala permasalahan dan prestasi anak akan dengan mudah bisa dipantau orang tua. Tidak hanya itu, melalui kecanggihan tehnologi guru bisa memberikan berbagai informasi terkait dengan kegiatan siswa termasuk kegiatan happy selling. Selanjutnya bersama dengan anak, orang tua mulai membangun dan menyusun pengetahuan baru tentang makanan sehat atau kebutuhan sekolah yang bisa dikreasikan bersama anak, melalui kegiatan ini antara anak dan orang tua akan terjalin komunikasi yang baik (Konstruktivisme), menentukan rencana dagangan makanan sehat yang menarik, menghitung modal, melakukan uji coba sebelum siap dijual (Inquiry). Anak berperan serta dalam setiap kegiatan, melakukan proses tanya jawab untuk mendapatkan pengalaman baru terkait dengan setiap kegiatan yang dilakukan bersama orang tua (bertanya), menciptakan kreasi makanan dan menata sedemikian menarik sehingga pembeli yang kebanyakan anak-anak akan tertarik untuk membeli ((inovatif). Pada kegiatan Happy selling, melalui pemodelan orang tua, anak belajar bertransaksi dan berkomunikasi dengan orang lain,dengan demikian anak akan belajar berani berbicara dengan siapa pun serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan oleh guru. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kegiatan Happy Selling, seperti pelajaran Bahasa Indonesia belajar berkomunikasi yang baik bersama orang lain, ilmu pengetahuan sosial tentang alat pembayaran, matematika tentang penjumlahan,pengurangan, penghitungan laba dan rugi. IPA belajar tentang makanan sehat dan tidak sehat. Melalui kegiatan Happy Selling day, anak akan mendapatkan banyak pengalaman nyata tentang kegiatan jual beli, dan yang paling penting dari kegiatan ini adalah anak secara tidak langsung belajar menjadi seorang interpreanuer cilik, yang kelak bisa berguna dalam kehidupan nyata di masa mendatang.()
