Saturday, August 3, 2019

Inspirasi



KEKUATAN ISTRI SEMANGAT SUAMI
Oleh: Farida Hanum

Sebenarnya cerita ini, adalah cerita yang biasa, tidak ada sesuatu yang menarik yang bisa dijadikan inspirasi bagi para wanita ataupun para istri. Saya hanya menulis cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi dengan harapan cerita ini setidaknya bisa memberikan sedikit ilmu kepada para istri, para ibu, ataupun para wanita yang diuji oleh Allah untuk merawat suaminya yang menderita sakit. Terutama penyakit stroke yang jelas-jelas membutuhkan ekstra perhatian seorang istri.

Kisah ini terjadi sekitar tiga tahun yang lalu, disaat suamiku terserang stroke untuk yang pertama kalinya. Terserangnya stroke terjadi disaat suami dalam posisi mengendarai mobil, beserta diriku yang duduk disebelah suami. Namun tiba-tiba saja tangan dan kakinya layu, lunglai tak bertenaga dengan mulut yang tiba-tiba “perot” serta berbicara yang tidak jelas. Sementara mobil terus meluncur dengan sendirinya. Aku “shock”, bingung harus melakukan apa. Spontanitas aku langsung tarik handrem supaya mobil terhenti, sementara suami langsung aku angkat pindah posisi duduk di sebelah sopir. Aku langsung beralih ke posisi duduk sopir, langsung tancap gas melajukan mobil menuju rumah sakit. Jangankan menyetir mobil, menstater mobil saja aku belum bisa, kok tiba-tiba harus menyetir mobil demi untuk menyelamatkan suami. Aku tidak ambil pusing, yang penting mobil bisa segera sampai dirumah sakit, itu pikirku. Ternyata Allah membimbingku, entah bagaimana caranya aku sendiri tidak menyadarinya, mobil itupun akhirnya sampai di rumah sakit. Segera suami aku bawa ke ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan. Terpaksa suami harus menjalani opname, untuk meng-obsevasi faktor penyebab terserang stroke. 

Sepuluh hari pasca opname suamiku belum menunjukkan tanda-tanda kebaikan. Kakinya masih terlalu lemas untuk dipakai berjalan, bahkan tangannya sama sekali tidak bisa digerakkan, layu lunglai seakan benar-benar mati. Butuh waktu lama untuk pemulihan. Disatu sisi aku punya tanggung jawab dengan kedinasanku, dengan urusan rumah dan anak-anak, belum lagi tanggung jawabku menyelesaikan kuliah s2 yang sudah berjalan satu tahun. Kini ada tambahan tugas baru yang sangat urgen. Yakni membantu memulihkan kondisi suami. Dan ini membutuhkan waktu ekstra agar kondisi suami bisa pulih seperti sedia kala.

Kini, aku menyadari betapa hampa saat suami terbaring lunglai tak berdaya. Ia yang dulu gagah perkasa, yang selalu melindungiku dan anak-anak, yang tak pernah lelah bekerja dan selalu membantu pekerjaan rumah dikala aku kepayahan. Aku yang biasanya dimanjakan sekarang harus melakukan apa-apa sendiri. Aku juga harus bisa melakukan tugas yang biasa dilakukan oleh suami. Dari mulai membetulkan listrik, mencuci mobil bahkan sampai urusan membetulkan genting terpaksa harus aku lakukan. Hal itu kulakukan karena dua anakku tinggal dikota malang untuk melanjutkan studinya. Sedangkan anakku yang masih kecil baru menginjak kelas 2 SD. Jadi aku harus bisa melakukan apapun sendiri. wonder woman itulah yang akhirnya menjadi julukanku dari teman-teman, kerabat dan anak-anakku.

Demi penyembuhan suami, apapun aku lakukan. Setiap apa yang orang katakan terkait dengan pengobatan stroke, selalu aku datangi. Dari mulai suntik stemcell yang harganya mencapai jutaan rupiah, pengobatan-pengobatan alternatif yang juga tidak sedikit biayanya. Itupun aku lakukan demi untuk kesembuhan suami. Selama hampir satu tahun lebih aku mengantarkan suami periksa baik ke dokter ataupun ke pengobatan alternatif. Berjuta-juta rupiah kuhabiskan untuk itu. Itu tidak mampu menyembuhkan 50 persen kesembuhan suami. Hingga biaya untuk pengobatan suami semakin menipis. Aku mulai mencoba melakukan terapi sendiri di rumah dengan metode terapi dari rumah sakit yang aku olah sendiri dengan menggunakan metode terapi mental.

Terapi mental disini merupakan upayaku agar suami tidak lagi berkeinginan untuk mencari pengobtan-pengobatan alternatif yang telah banyak menyita biaya dan waktu. Serta tenaga dan pikiran suami dan diriku. Jadi, disamping tetap terapi di rumah sakit, di rumah aku juga memberikan tekhnik terapi yang sama dari rumah sakit dengan tambahan tekhnik mental untuk men-colling down hati dan pikiran suami agar lebih rileks. Berbagai macam tekhnik terapi mental yang aku lakukan, seperti misalnya mengajak bergurau sambil terapi pijat, atau mengajak berzikir sambil terapi jalan bahkan mengajak yoga sambil berlatih duduk bersila. Itu aku lakukan hampir setiap hari. Disamping setiap hari tugas wajib terapi suami aku terus berupaya untuk mengembalikan posisi mental suami yang down akibat penyakitnya. Bagaimana caranya agar suami bisa kembali hidup bersosialisai seperti sebelum beliau sakit. Dan ini yang baiku terapi yang paling berat, karena suamiku yang sebelum sakit adalah seorang tokoh masyarakat yang sering berceramah kini akibat penyakitnya beliau tidak lagi punya kegiatan. Utnuk pemulihan mentalnya, aku sering mengajak ngobrol perihal masa-masa sebelum ia sakit, memberikan buku-buku yang biasa ia baca sebelum memberikan tausiyah. Mengajak diskusi tentang apa saja yang bisa memulihkan daya ingatnya dan memunculkan semangatnya kembali. Walhasil…terapi yang seperti ini yang menjadikan suamiku lebih cepat perubahannya. Ia sudah mulai bisa berjalan tanpa bantuan alat apapun, bicaranya sudah jelas, keras dan tidak cadel lagi, justru dengan ketenangan hatinya, sejak itu suamiku bisa lagi mendatangi musholla dekat dengan rumah tanpa bantuan siapapun. suamiku jadi bisa mengkumandangkan adzan kembali dan bisa berjamaah seperti dulu sebelum ia sakit.

Ini mukjizat yang luar biasa yang diberikan Allah kepadaku. Aku yang dulu sosok istri yang banyak bergantung pada suami, yang ketika memperoleh ujian besar itu jadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, kemuadian harus berjuang untuk merubah diri sendiri menjadi sosok yang kuat dan tidak rapuh ataupun menunjukkan keputus asaan didepan suami. Serta berjuang untuk memulihkan kondisi suami sendiri, walaupun dengan berbagai kesibukan yang harus dilakukan secara bersama-sama. Wuih….kalau dibayangkan sepertinya hal itu mustahil untuk dilakukan. Tapi Allah berkehendak lain…Ia memberiku Ujian sebatas kemampuanku. Allah mengujiku dengan diberi suami sakit itu adalah ujianku untuk mencari surganya Allah. Dan sungguh… dengan kekuatan yang diberikan Allah kepadaku serta campur tanganNya lah aku bisa menyemangati suami untuk bangkit dan berjuang untuk sembuh demi keluarga dan anak-anak. Kini…suami bisa menikmati hidup dengan tenang, menjalankan ibadah lebih khusuk dan yang terpenting tetap selalu bersyukur sebagai wujud terima kasihnya kepada Allah.hanum*

No comments:

Post a Comment

Artikel

  MEMILIH SEKOLAH,  BERKELAS   ATAU BERKUALITAS ? ? Oleh : Dra   Farida Hanum M.Pd               Sebentar lagi para orang tua dibuat...