Saturday, August 3, 2019

Cerpen




TONGKAT UNTUK AYAH
FARIDA HANUM

1.    AYAHKU MEMANG HEBAT

“ Ayo terus..terus..,jangan cepat-cepat nak…!” teriak ayah sambil berlari-lari kecil mengikuti sepeda Najwa. “ Direm, sayang….!” Teriak ayah. Najwa berusaha mengerem sepedanya. Sepedanya berhenti bersamaan dengan kakinya menyentuh tanah. “ Horee …kamu bisa ! kamu bisa !” ayah bertepuk tangan sambil memeluk Najwa. Najwa ikut bersorak kegirangan.
Sudah satu minggu najwa belajar naik sepeda. Setiap sore selesai mengaji Najwa belajar naik sepeda bersama ayah. Ayah selalu sabar mengajari Najwa naik sepeda. “ ayo, nak..istirahat dulu, itu ibu sudah menyiapkan makanan untuk kita.” Ajak ayah. Najwa menuntun sepedanya, mengikuti langkah ayahnya menuju ke teras rumah. Di sana ibu sudah duduk santai sambil minum teh hangat. “ Ini minum tehnya dulu, nak..” ibu mengarahkan cangkir tehnya ke mulut Najwa. Sreeep…suara Najwa menyeruput teh yang disodorkan ibunya.
 “ Alhamdulillah…lega..” kata Najwa dengan nada bicara yang masih cadel. Kemudian Najwa mengambil pisang goreng buatan ibunya. Sambil mulutnya penuh dengan pisang goreng, Najwa menarik tangan ayahnya dan mengajaknya belajar naik sepeda lagi. “ Ayo ayah ! ajari aku lagi ..” rengek Najwa.
Ayah berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti tarikan tangan Najwa. Kali ini ayah hanya memegangi sepeda Najwa sebentar. “ Sudah siap nak…pelan-pelan saja, jangan ngebut !” ayah menasehati sambil melepas sepeda Najwa perlahan-lahan. Ayah tidak mengikuti sepeda Najwa, ia hanya melihat dari kejauhan. “ Ternyata Najwa sudah lancar bersepeda” pikir ayah. Najwa sangat gembira, karena sekarang ia sudah bisa naik sepeda sendiri.
Tak terasa dari kejauhan terdengar suara adzan maghrib. Ayah mengajak Najwa untuk sholat maghrib ke mushlolla yang tidak jauh dari rumah.   Selesai sholat maghrib, ayah masih harus mengajari Najwa belajar membaca dan menulis.
Setiap hari ayah selalu menyempatkan diri untuk memperhatikan Najwa. Setiap hari Najwa selalu belajar dan bermain dengan ayahnya sepulang dari kantor. Ayah mengajari bersepeda, bermain piano, membaca bahkan terkadang ayah menjadi kuda-kudaan dan Najwa naik diatas punggung ayahnya. Bahkan Najwa tidak mau tidur sebelum ayahnya mencium keningnya.
“Huaah…” suara Najwa tanda ia mulai mengantuk. “ sudah ngantuk ya..” tanya ayah. Ayah kemudian mengajak Najwa pergi ke kamar mandi, mencuci kaki dan tangan. “ jangan lupa gosok gigi ya nak..” perintah ayah.
Selesai menggosok gigi, Najwa digendong ayahnya dan dibaringkan ke tempat tidur. “ selamat tidur, nak..” kata ayah sambil mencium kening Najwa. “ Selamat tidur, aku sayang ayah.” Najwa membalas ucapan ayahnya. Ayah meninggalkan kamar Najwa. Tepat di pintu kamar, terdengar suara memanggil. “ Ayah..ayah..terima kasih ya.., ayah  memang hebat ! “ puji Najwa sambil memberikan jempol kepada ayahnya. Ayahnya berbalik arah dan menghampiri Najwa, kemudian memeluk Najwa erat-erat. “ Ayah sayang sekali sama Najwa.” Ayah tetap memeluk erat Najwa. “ Kamu juga hebat !” ayah juga memuji Najwa.
Ayah keluar dari kamar Najwa sambil mengeluarkan air mata tanda terharu. Ia merasa senang sekali karena Najwa selalu ceria dan gembira. Apalagi sekarang sudah bisa naik sepeda.



2.    AYAH JATUH SAKIT

Pagi-pagi sekali ayah sudah berangkat ke kantor. “ Ibu, kemana ayah Kok tidak membangunkan aku?” Najwa bertanya sambil mengucek-ucek matanya. Setiap pagi, ayah selalu membangunkan Najwa, menggendongnya dan mengantarkan ke kamar mandi. Tapi kali ini, ayah tidak datang ke kamarnya. Najwa terlihat sedih. “ Ayah berangkat lebih pagi nak.., di kantor ayah akan kedatangan tamu penting, makanya ayah harus menyiapakan segalanya lebih dulu.” Jelas ibu. “ ayo sekarang  mandi, terus sarapan. Ibu sudah bikinkan telur ceplok kesukaanmu.” Ibu membujuk Najwa.
Najwa sudah berseragam rapi, ibu Najwa memakaikan sepatu hitam dengan kaos kaki bergambar barbie kesukaan Najwa. “nah.. sudah rapi !, ayo sekarang kita berangkat.” Ibu mengantar Najwa berangkat ke sekolah. Najwa sekolah di SD.Unggulan Tanggulangin Sidoarjo, ia masih duduk di kelas 1.
Setiap hari najwa berangkat sekolah selalu diantar ayah. Terkadang ayah menggunakan kendaraan beroda empat, tetapi yang lebih sering ayah mengantarnya dengan menggunakan roda dua. hari ini Najwa diantar ibunya sampai pintu gerbang. “ Nanti tunggu ibu di depan pintu gerbng aja, jangan kemana-mana !” Tegas ibu Najwa menghawatirkannya. “ ya bu.” Jawab Najwa. Najwa masuk ke dalam kelas. Sementara ibunya pulang kembali.
Sore begini biasanya ayah sudah mengajak Najwa bermain. Ia tak pernah sekalipun menyia-nyiakan kesempatan bermain bersama Najwa. Tapi kali ini, ayah belum pulang. Najwa duduk sendiri di teras depan rumah sambil membawa boneka panda pemberian ayahnya. Najwa menunggu ayahnya. Najwa bermain sendirian, sementara ibu asyik membaca majalah.
Selang beberapa saat, ayah Najwa datang. Tiin..tin..klakson ayah mengagetkan Najwa. “ Hore.. ayah datang.” Sambut Najwa sambil meloncat kegirangan.
“ Assalamualaikum….
“ Waalaikum salam..kok ayah terlambat? Tanya Najwa.
 “ Maafkan ayah ya nak..” jawab ayah.
 ayah terlihat lelah, tapi ayah tetap tersenyum.  Ayah memeluk Najwa. “ Ayah mandi dulu ya…” jelas ayah, kemudian bergegas masuk ke dalam. Ibu mengikuti sambil membawakan tas ayah.
“ Badan ayah sakit semua bu..,” kata ayah. Ibu memegang badan ayah.           “ Iya..badan ayah panas !, jangan mandi ayah, nanti tambah panas. Ayah masuk ke kamar kemudian berbaring sambil memejamkan mata. Kepala ayah semakin berat. “ Kita periksa ya yah..” Ajak ibu. Ayah menolak, ia hanya ingin istirahat sebentar.
Ibu membuatkan teh hangat untuk ayah. Kemudian memberikannya ke ayah. “ ini yah..minum dulu..” kata ibu sambil memberikan secangkir teh. Ayah meminumnya, kemudian kembali berbaring ke tempat tidur. Selang beberapa saat terdengar teriakan ayah memanggil ibu.
Bu.. Ibu..!” teriak ayah, sambil bangun dari tidur. “kaki ayah lemas, ayah tidak bisa berdiri !” Ibu berlari menuju ke kamar. Terlihat ayah sudah duduk di samping tempat tidur. Ibu terhentak kaget, tanpa pikir panjang, ibu langsung  membopong ayah dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Ibu membawa ayah ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan, sakit ayah semakin parah tangan dan kakinya lunglai, mulutnya kaku sehingga bicaranya tidak bisa dimengerti. Ibu semakin panik, ia mempercepat laju kendaraannya.
Sesampai di rumah sakit, ibu memanggil perawat dan membawa ayah ke ruang UGD. ayah diperiksa dan diinfus. Ayah harus dirawat dirumah sakit. Ayah terserang stroke, begitu kata dokter. Ibu sangat kaget, dengan meneteskan air mata ibu memandangi ayah yang lemas lunglai tak berdaya.
Najwa menangis di gendongan ibu, ia terus memanggil-manggil ayah. Tapi ayah tidak bisa membalas panggilan Najwa. Mulut ayah seperti terkunci. Ibu mengusap air mata ayah. “ yang sabar ya ayah..ini ujian ayah.” Kata ibu menguatkan hati ayah. Ibu sendiri sebenarnya juga sangat  sedih melihat ayah mendadak jatuh sakit. Tapi ibu harus lebih tegar, demi ayah.
Sepuluh hari sudah ayah dirawat di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa ayah sudah boleh pulang. Tapi ayah harus duduk dikursi roda, karena ayah tidak bisa berjalan lagi. Tangan dan kaki sebelah kanan ayah lunglai.
“ Bapak sudah boleh pulang, makan-nya dijaga ya pak..” jelas pak dokter. Ayah hanya mengangguk saja. Dokter kemudian memberikan ibu resep untuk diminum di rumah dan menjelaskan larangan-larangan makanan untuk ayah.
Ibu membereskan barang-barang ayah selama tinggal di rumah sakit. Dengan menggunakan kursi roda ibu mendorongnya meninggalkan kamar rumah sakit.
Perasaan ayah sedih bercampur bahagia. Bahagia, karena ia sudah boleh pulang dari rumah saklit. Sedihnya, karena ia harus selalu berada di kursi roda. Ayah pasrah terhadap sakit yang di deritanya. “ Allah pasti punya rencana lain.” Batin ayah.





3.         KESEDIHAN AYAH
Tiba di rumah, ibu mendorong kursi roda ayah dan mengantarkan masuk ke kamar. Ibu mengangkat ayah dan menidurkannya. Ayah sangat sedih, ia tidak lagi seceriah dulu. Najwa juga ikut sedih, ia ingin ayahnya segera sembuh dan bisa bermain dengannya lagi. “ ayah cepat sembuh ya..,aku sayang ayah..” Najwa memeluk ayahnya. Ayah menahan air matanya supaya tidak keluar. Ia berusaha untuk  tetap tersenyum. Tapi, kesedihan ayah tetap tidak bisa disembunyikan.
Setelah keluar dari rumah sakit, ayah masih tetap berbaring di tempat tidur. Ia harus selalu berada di kursi roda. Setiap sore hari ibu mengajak ayah duduk di ruang tamu sambil menonton tivi. Meskipun ayah tidak berminat menonton tovi, tapi ayah hanya ingin melihat Najwa bermain ataupun belajar. Sekarang Najwa harus  melakukan apa saja  sendiri. Najwa tidak ingin mengganggu ayahnya. “ Ayah..lihat tulisan Najwa, sekarang sudah bagus.” Kata Najwa menunjukkan buku tulisnya ke ayah. Ayah memuji Najwa, meskipun dengan bicara yang masih terbata-bata. “ bagus nak !, ayah bangga padamu.” Jawab ayah.
Najwa bahagia sekali mendapat pujian dari ayahnya. Ia melanjutkan belajar menulis. Tulisan Najwa semakin bagus. Selesai menulis, Najwa membaca buku cerita dengan keras. “ ayah…dengarkan aku membaca cerita si kancil ya…” pinta Najwa. Ayah hanya mengangguk dan memberikan jempol kirinya kepada Najwa. Najwa membaca dengan keras. Ayah hanya tersenyum melihat mimik wajah anaknya yang lucu dan menggemaskan. “ lucu sekali anakku.” Batin ayah. Ibu duduk di samping ayah  memijat-mijat tangan ayah yang terkena stroke. Sesekali ibu membetulkan cara membaca Najwa.
“ sudah..capek !” Najwa menghentikkan membacanya dengan suara yang serak. Ibu menghampiri Najwa dan memberikan susu hangat.
“ Ibu.. kapan ayah sembuh ?” tanya Najwa sambil menghabiskan susu yang ia pegang.
“ Najwa harus berdoa, minta sama Allah supaya ayah segera sembuh.” Jawab ibu. Najwa meletakkan gelasnya, kemudian ia menengadahkan tangannya ke atas dan berdoa kepada Allah.
“ Ya allah !..berikan ayah kesembuhan, aku ingin bermain lagi sama ayah, cepat ya Allah sembuhkan ayahku. Amin..” Najwa menutup doanya sambil mengusapkan tangan ke wajahnya. Ayah terlihat meneteskan air mata. Ibu mendekatkan kursi roda ayah di sebelah kursi Najwa.
“ Terima kasih nak..Allah pasti mendengarkan do’a anak sholikhah seperti kamu.” Kata ayah sambil mengusap air matanya dengan tangan kiri. Ia tersenyum gembira melihat Najwa semakin pintar dan cerdas. Ayah sudah bisa tersenyum gembira. Tetapi di wajahnya masih tampak kesedihan karena sakit yang di deritanya. Ayah hanya pasrah kepada Allah. Ia terus berdoa agar diberi kekuatan dan sabar menerima cobaan ini.





4.    TONGKAT UNTUK AYAH
Tak terasa ayah mengalami sakit stroke sudah hampir tiga bulan. Selama itu pula ayah rajin terapi. Ayah memiliki semangat yang kuat untuk sembuh. Ayah sudah tidak menggunakan kursi roda lagi. Ayah sudah mulai belajar berjalan. Ayah belajar berjalan dengan menggunakan tongkat. Tapi sayangnya tongkat ayah bekas tongkat yang dipakai kakek. Tongkat kakek berkaki tiga dan sudah berkarat. Kakek juga terserang stroke. Kakek sudah lama meninggal dunia. Tongkat kakek disimpan ayah di gudang. Karena sudah cukup lama tongkat kaket jadi berkarat.  “ kasihan ayah, tongkatnya sudah jelek.” Najwa berbicara sendiri. “ Aku harus membelikan tongkat untuk ayah.” Pikir Najwa.
Najwa menghampiri ibunya di dapur. Ibunya menyiapkan makanan untuk ayahnya. Najwa ikut membantu membawa piring ayah. “ ibu, kasihan ayah, tongkatnya sudah jelek, Najwa ingin membelikan ayah tongkat .” Najwa meminta persetujuan ibunya. Ibunya mengangguk dan membisikkan sesuatu ke telinga Najwa. “ Huss.. jangan keras-keras !, nanti sore ayo ke toko alat kesehatan, kita carikan ayah tongkat yang bagus.” Bisik ibu. Najwa hanya mengangguk karena khawatir ayah mendengarnya.
Sore hari, setelah Najwa mengaji. Ibu mengajak Najwa ke toko alat kesehatan di Sidoarjo. Ibu dan Najwa berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Sementara ayah dititipkan kepada paman Hudi, saudara jauh ayah. Rumah paman Hudi tidak jauh dari rumah ayah. Setiap kali ibu meninggalkan ayah, paman Hudi yang bertugas menjaga ayah.
Di toko kesehatan, ibu memilih-milih tongkat yang cocok dan enak untuk di pakai ayah. Saking banyak macamnya, ibu kebingungan. Najwa membawa tongkat berwarna coklat. “ Ibu..ini ada tongkat bagus ..” Najwa menunjukkan tongkat yang ia bawa. Ibu mengambil tongkat itu dari tangan Najwa. “ waah..benar nak..kayaknya ini enak, coba lihat tongkatnya bisa dilipat.” Jelas ibu sambil mencoba melipat tongkat.
Di toko tersebut dijual berbagai macam jenis tongkat untuk penderita stroke. Ada tongkat yang melingkar seperti huruf “U”, tongkat ini dipakai untuk penderita stroke yang baru belajar berjalan. Ada tongkat yang berkaki tiga, ini di pakai untuk penderita yang sudah mulai lancar berjalan. Sedang untuk ayah adalah tongkat yang berkaki satu, karena ayah sudah bisa berjalan meskipun jalannya masih sedikit pincang.
Ibu memutuskan untuk membeli tongkat pilihan Najwa. “ Ayah pasti senang.” Kata Najwa kepada Ibu. “ iya..mudah-mudahan ayah tambah semangat belajar berjalan, dan bisa bermain bersama kamu lagi.” Harapan ibu. “ Amin..” sambut Najwa.
Ibu dan Najwa bergegas kembali pulang. Mereka tidak sabar untuk melihat reaksi ayah, melihat tongkat barunya. Sesampai di rumah, Najwa berlari dan memanggil ayahnya. “ ayah..ayah..! Najwa pulang.” Teriak Najwa. Najwa terus mencari ayahnya. Tapi ayahnya tidak terlihat. Najwa terus mencari ke teras belakang, dimana biasanya ayah senang berlama-lama di teras belakang. Ayahnya duduk santai di teras belakang, sambil melatih tangannya yang masih belum bisa di gerakkan.
“ Assalamualaikum, ayah..” Najwa mengagetkan ayahnya.
“ Wa’alaikum salam, eh..anak ayah sudah datang.” Jawab ayah.
“ coba lihat apa yang dibawa Najwa.” Kata Najwa sambil menunjukkan sesuatu di tangannya. “ Coba ayah tebak ! kira-kira apa yang dibawa Najwa.”
“ Pasti obat ayah..atau makanan untuk ayah ya…” ayah berusaha menebak.
“ Salah… !” Najwa mentertawakan ayahnya.
Najwa memberikan bungkusan kepada ayah. Najwa membantunya membuka bungkusan tersebut. Dan…ayah terbelalak kaget bercampur bahagia.
 “ ini tongkat untuk ayah.” Kata Najwa.
“ terima kasih, nak…ayah senang sekali.” Kata ayah dengan nada gembira.
Ayah mencoba tongkat baru itu, ia berjalan mengelilingi teras sambil tersenyum tanda bahagia. Najwa ikut gembira, melihat ayahnya semakin semangat belajar berjalan.
Hari ini, hari Minggu. Najwa libur sekolah. ia ingin menemani ayah berlatih di belakang rumah. Dengan tongkat barunya ayah belajar berjalan, Najwa menggandeng tangan ayah sambil menyanyi. Ayah semakin semangat berlatih.
Selesai berlatih jalan, ayah mengerakkan badannya ke samping kanan dan ke kiri, berulang  kali. Kemudian menggerakkan kepalanya ke bawah dan ke atas. Ayah melakukan olah raga ringan sesuai dengan kemampuan tubuhnya. Ayah sudah mulai berkeringat. “ ayo nak, istirahat.., ayah sudah capek.”
Ayah sudah terlihat segar. Setelah berolah raga ringan dan berjemur di terik matahari pagi. Ayah menikmati sarapan nasi pecel buatan ibu. Makan ayah sudah tidak seperti dulu lagi. Kalau dulu, ayah sering makan di luar rumah, bersama teman kantornya. Tapi sekarang, dokter melarang makan makanan yang berlemak, ayah harus banyak makan sayur.
Berkat tongkat yang diberi Najwa serta kesungguhan ayah berlatih membuahkan hasil yang menyenangkan. Ayah sudah bisa berjalan.




5.    AKU SAYANG AYAH

Ayah sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat lagi. Kesehatan ayah semakin membaik. Tapi ayah masih belum bisa bekerja. Karena tangan ayah belum bisa digerakkan secara sempurna. Ayah masih harus menjalani terapi untuk tangannya.
Ayah sudah bisa bermain lagi dengan Najwa. Ayah selalu menemani Najwa belajar. Kegembiraan ayah sudah mulai terlihat lagi. Ayah sudah tidak murung lagi. Ia selalu melakukaan apa saja sesuai dengan kemampuan tangan ayah, karena ayah harus melakukan apa saja dengan tangan kirinya.
Setiap pagi, ayah selalu berlatih di teras belakang rumah. Sambil berjemur di terik matahari pagi, ayah menggerakkan tangannya dengan alat bantu tarik. Kemudian berjalan mengitari halaman rumah, dua sampai tiga kali putaran, itu dilakukan rutin setiap hari.
“ assalamualaikum..” teriak Najwa masuk ke dalam rumah.
“ wa’alaikum salam.. eh ..anak ayah sudah pulang sekolah.”
“ ayah..aku tadi dapat nilai seratus.”
“ hebat, anak ayah !”
“ kan ayah selalu mengajari najwa berhitung..makanya Najwa dapat seratus.” Kata Najwa memuji kehebatan ayahnya.
Ayah menggandeng tangan Najwa dan mengajak ke kamarnya. Ayah  menunjukkan sesuatu kepada Najwa. “ selamat ulang tahun nak..” kata ayah sambil memberikan bingkisan kado buat Najwa. Najwa kaget !, ia lupa kalau hari ini ulang tahunnya. Ayah sengaja merahasiakan kado untuk Najwa. Diam-diam ayah menyuruh paman Hudi untuk membelikan sepatu yang selama ini diingnkan Najwa. Najwa kemudian membuka kado ayah. “ yeah…horee .. sepatu yang Najwa inginkan ..asyiik..!” Najwa berteriak. Ia tidak sabar memakai sepatu barunya. Sambil berputar-putar najwa menyanyikan lagu sepatu baru. Ia berlari menghampiri ibunya yang baru keluar dari kamar mandi. “ibu..lihat sepatu baruku, bagus sekali.” Najwa berkata sambil mengangkat kaki kanannya. “heem..iya bagus, pas di kaki Najwa.” Puji ibu. “ tapi masih ada satu lagi hadiah untuk najwa.” Ibu kemudian mengajak Najwa ke ruang tamu. Di ruang tamu tampak terlihat sepeda baru. “ ini hadiah ibu untuk Najwa, karena Najwa tambah pintar.” Ibu mendekati sepeda pink yang cantik. Najwa semakin kaget, ia tidak menyangka kalau ayah dan ibunya sangat sayang kepadanya. Di hari ulang tahunnya yang ke 8 ini, Najwa mendapatkan hadiah yang berlimpah.
Sore hari, ibu mengajak Najwa memeriahkan hari ulang tahunnya dengan makan di restoran kesayangan Najwa. Ayah juga ikut mendampingi ibu. Najwa sangat gembira. Ia makan dengan lahapnya. Sementara ayah begitu senang melihat kegembiraan Najwa.
“ Terima kasih, ayah..ibu… aku sayang kalian.” Najwa memeluk mereka berdua. “ semoga ayah sehat selalu dan tidak sakit lagi,amin..” doa Najwa tulus. Ayah memeluk erat Najwa. “ terima kasih, nak..ayah sayang kamu.”
Setelah puas merayakan hari ulang tahun Najwa, mereka kembali pulang. Di tengah perjalanan pulang, najwa tertidur sambil terlihat senyuman menghiasi wajah cantiknya. Najwa terlihat sangat gembira. Ia sepertinya tengah bermimpi bermain bersama bidadari-biadari cantik dalam tidurnya. Sambil mengucapkan selamat ulang tahun, Najwa…..()
 


 

















No comments:

Post a Comment

Artikel

  MEMILIH SEKOLAH,  BERKELAS   ATAU BERKUALITAS ? ? Oleh : Dra   Farida Hanum M.Pd               Sebentar lagi para orang tua dibuat...