Saturday, June 1, 2024

 



MEMILIH SEKOLAH, BERKELAS  ATAU BERKUALITAS ??

Oleh : Dra  Farida Hanum M.Pd

 

            Sebentar lagi para orang tua dibuat pusing dalam rangka mempersiapkan putra putri mereka masuk sekolah atau bahkan sekarang inipun sudah mulai bermunculan baliho-baliho pendaftaran siswa baru dengan program pendaftaran masuk sekolah melalui jalur prestasi ataupun lewat jalur inden. Heem…inden sekolah seperti inden kendaraan saja. Sebagai orang tua mereka selalu berharap menemukan sekolah yang baik untuk anak anak mereka, baik sisi ilmu pengetahuan ataupun ilmu agama dengan harapan agar anak-anak mereka menemukan proses perubahan karakter. Memilih sekolah bagi anak memang gampang-gampang susah. Oran tua harus jeli dan tahu kebutuhan anak. Salah memilih sekolah, bisa berakibat buruk, bahkan berdampak panjang. Sudah banyak kasus kasus yang terjadi di sekolah seperti kasus penculikan siswa, kasus asusila, kasus penganiayaan dan masih banyak lagi kasus kasus yang lainnya. Semua ini bisa saja terjadi salah satu penyebabnya  diantaranya adalah akibat ketidak jelian orang tua dalam menentukan pilihan sekolah bagi anak.Lalu,  kapan kita sebaiknya mulai mencari sekolah untuk anak ?, sekolah yang bagaimana yang harus dipilih orang tua bagi anak mereka ?berkualitas ataukah berkelas ?.  Ini yang menjadi PR orang tua.

Semua orang tua menyekolahkan anak berharap agar mereka mampu hidup dengan benar dan baik, mampu mengemban amanah Alloh dan menggali  hikmah seluas luasnya. Sebagai orang tua, kita tidak sekedar membekali anak dengan ilmu tetapi juga mengajarkan anak berproses menjadi pribadi yang mampu menebarkan  rohmat di tengah keluarga, masyarakat dan alam sekitarnya. Itulah parameter keberhasilan pendidikan yang telah digariskan oleh Alloh swt dalam Al Qur’an seperti yang termaktub dalam  surat Lukman:11-19 dalam bentuk kisah Lukman Al Hakim yang memberi nasehat kepada anaknya. Parameter keberhasilan pendidikan tersebut diatas bisa menjadi acuan orang tua dalam mendidik anaknya, misalnya tentang ketauhidan, bi’rul walidain, ketrampilan hidup, kekuatan jiwa,  dan tumbuhnya jiwa sosial. Muara dari seluruh pencapaian kelima kompetensi diatas adalah terwujudnya pribadi yang bersyukur dan sabar. Mensyukuri segala potensi yang dikaruniakan oleh Alloh kepada hamba-Nya , dan bersabar atas segala takdir-Nya yang dihidangkan dalam kehidupan. Syukur akan membawa sikap progresif untuk terus maju dan sabar menjadi bekal untuk menghadapi tantangan hidup.

            Dari sini jelas bahwa menentukan sekolah berpengaruh besar terhadap pencapaian kompetensi pendidikan anak. Orang tua perlu berfikir keras dalam menentukan pilihan sekolah yang baik dan tepat untuk anak anak mereka. Ada banyak keraguan dan kebimbangan bagi orang tua. Karena sekolah berkelas (elit ) pun tidak menjamin siswa atau anak anak merasa aman dan nyaman. Ada banyak  sekolah-sekolah yang berlebel “Internasional” serta memiliki titel “Sekolah Elite” dengan kualitas pendidikan yang tidak diragukan lagi masih bisa kecolongan dengan kasus tindakan asusila dari beberapa oknum. Sebaliknya, sekolah” pinggiran” pun bisa jadi alternatif pilihan manakala sekolah tersebut di kelola dengan baik serta mampu memberikan kenyamanan bagi anak anak. Karena dengan kenyamanan setidaknya  menjadikan kelancaran belajar anak di sekolah.

So…teliti sebelum memutuskan itu penting bagi orang tua dan anak. Orang tua harus benar-benar menemukan informasi penting tentang keberadaan sekolah tersebut seperti, pertama, apakah sekolah tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak?, setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda melihat kondisi fisik dan mental mereka. Seperti misalnya, anak yang mempunyai hambatan dalam bicara jelas tidak harus di sekolahkan di sekolah bilingual, karena hal ini justru makin menghambat dan membebani anak. Kedua, kemampuan finansial orang tua. Pendidikan memang tidak murah, sekolah yang layak (sarana dan pendidikanya) memang akan menghasilkan output yang baik. Dan itu jelas tidak murah. Sebagi orang tua, kita harus bisa mengukur kemampuan finansial, bukan mencari sekolah berkualitas yang mahal dengan memaksakan diri dan tidak sesuai dengan kondisi keuangan keluarga, justru hal ini akan muncul masalah-masalah baru terutama yang berkaitan dengan financial. Ketiga, tetap melibatkan anak dalam menentukan pilihan, bagaimanapun anaklah yang berkepentingan, sebagai orang tua kita harus bijak memutuskan dengan tetap mengajak anak ikut menentukan pilihan sekolah. Terakhir, Sebelum yakin dengan putusan hasil diskusi dengan anak tentang pilihan sekolah ada baiknya mempertimbangkan tentang kriteria sekolah yang tergolong sekolah berkulitas atau sekolah unggulan. Disebut  sekolah berkualitas bila sekolah tersebut memberikan kenyaman pada anak di sekolah, baik dalam kondisi proses pembelajaran berlangsung atau pada saat usai belajar di kelas. Disamping itu sekolah tersebut memiliki sarana yang menunjang pendidikan anak seperti perpustakaan, laboratorium komputer, termasuk juga saran olah raga, kelas yang nyaman, guru yang smart dan bisa membuat anak merasa benar membutuhkan dan lain sebagainya. Terakhir, sekolah yang berkualitas bisa dilihat dari pengaruh anak dan orang tua. Orang tua dan anak akan merasa kehilangan bila datang saat libur sekolah, ada rasa rindu untuk segera kembali ke sekolah.

Jadi, ketika sekolah pinggiran terdapat semua kriteria tersebut itu bisa dikategorikan sekolah berkualitas. Sebaliknya sekolah berkelaspun manakala tidak ada kenyamana untuk anak dalam belajar itu bukan menjadi pilihan yang tepat bagi anak. Maka menentukan seklolah berkualitas atau berkelas semua kembali pada diri anak dan orang tua.

            Ketika orang tua sudah menentukan pilihan sekolah yang terbaik untuk anak, orang tua tidak kemudian menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anak di sekolah kepada guru. Orang tua tetap harus bersinergi secara lebih kuat serta  menjalin komunikasi yang baik dengan pemangku amanah di sekolah terutama kepada guru berkaitan dengan perkembangan pendidikan anak. Dengan demikian orang tua tetap bisa memantau perkembangan anak secara intensif di sekolah dan tetap bisa menjaga anak dari hal hal yang tidak di inginkan. Karena kesalahan fatal dalam menentukan Sekolah akan terjadi penyesalan yang berkepanjangan. 

 

Sunday, August 4, 2019

Profil


PROFIL


FARIDA HANUM, Lahir di Sidoarjo 01 Januari 1968, Tinggal di kota lumpur Lapindo Porong Sidoarjo. Menyelesaikan S1 fakultas Tarbiyah di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Pasuruan (1992), kemudian menyelesaikan S2 program Studi Manajemen Pendidikan Agama Islam di STIT. Al-Khoziny Buduran Sidoarjo (2016).
Penulis adalah seorang ASN di lingkungan Kementerian Agama Islam Kabupaten Sidoarjo, tepatnya menjadi pendidik yang di perbantukan di MI. ASASUL HUDA Randegan Tanggulangin Sidoarjo.
puluhan karya buku baik monologi maupun antologi, Menulis artikel pendidikan, parenting, cerpen maupun puisi di berbagai media koran, Majalah dan juga aktif sebagai seorang blogger, kompasiana.com. Bergabung di Gerakan Budaya Literasi (GBL) Sidoarjo Tahun 2016 menghasilkan buku keroyokan ‘berkarya tanpa jeda’ dan kumpulan puisi ‘mutiaraku’. Penggiat Literasi sekaligus influencer literasi pada Madrasah maupun sekolah.
Karya penulis, buku tentang pendidikan diantaranya; sosok guru kekinian (berkarya dan berinovasi menggunakan Digital) 2020, Best Practise sang Jawara (2021), Jadilah Bidadari Anakku, Yuk Menulis, Nak, Kumpulan Cerpen; Titisan kupu-kupu malam(2024), Jeratan Drugs (2022), Kasih tanpa Asa (2022), Flamboyan Tlah pergi (2024), Asmara Doken ( 2024), Tuhan Jangan Renggut Kakiku (2024) Fabel; Terperangkap Monster Gadget (2024),Ici Si Buruk Rupa (2019), dan masih banyak lagi karya-karya yang tidak bisa diekspos seluruhnya.
Penulis bisa dihubungi melalui surel; mamhanum@gmail.com. IG;hanum_faiz, FB;Farida Hanum, www.kompasiana.com/mamhanum/               



Saturday, August 3, 2019

Hubungi Saya


Penulis bisa dihubungi melalui surel; mamhanum@gmail.com. Atau nomor; 081331236394                 
akun telegram: MamHanum

Inspirasi



KEKUATAN ISTRI SEMANGAT SUAMI
Oleh: Farida Hanum

Sebenarnya cerita ini, adalah cerita yang biasa, tidak ada sesuatu yang menarik yang bisa dijadikan inspirasi bagi para wanita ataupun para istri. Saya hanya menulis cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi dengan harapan cerita ini setidaknya bisa memberikan sedikit ilmu kepada para istri, para ibu, ataupun para wanita yang diuji oleh Allah untuk merawat suaminya yang menderita sakit. Terutama penyakit stroke yang jelas-jelas membutuhkan ekstra perhatian seorang istri.

Kisah ini terjadi sekitar tiga tahun yang lalu, disaat suamiku terserang stroke untuk yang pertama kalinya. Terserangnya stroke terjadi disaat suami dalam posisi mengendarai mobil, beserta diriku yang duduk disebelah suami. Namun tiba-tiba saja tangan dan kakinya layu, lunglai tak bertenaga dengan mulut yang tiba-tiba “perot” serta berbicara yang tidak jelas. Sementara mobil terus meluncur dengan sendirinya. Aku “shock”, bingung harus melakukan apa. Spontanitas aku langsung tarik handrem supaya mobil terhenti, sementara suami langsung aku angkat pindah posisi duduk di sebelah sopir. Aku langsung beralih ke posisi duduk sopir, langsung tancap gas melajukan mobil menuju rumah sakit. Jangankan menyetir mobil, menstater mobil saja aku belum bisa, kok tiba-tiba harus menyetir mobil demi untuk menyelamatkan suami. Aku tidak ambil pusing, yang penting mobil bisa segera sampai dirumah sakit, itu pikirku. Ternyata Allah membimbingku, entah bagaimana caranya aku sendiri tidak menyadarinya, mobil itupun akhirnya sampai di rumah sakit. Segera suami aku bawa ke ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan. Terpaksa suami harus menjalani opname, untuk meng-obsevasi faktor penyebab terserang stroke. 

Sepuluh hari pasca opname suamiku belum menunjukkan tanda-tanda kebaikan. Kakinya masih terlalu lemas untuk dipakai berjalan, bahkan tangannya sama sekali tidak bisa digerakkan, layu lunglai seakan benar-benar mati. Butuh waktu lama untuk pemulihan. Disatu sisi aku punya tanggung jawab dengan kedinasanku, dengan urusan rumah dan anak-anak, belum lagi tanggung jawabku menyelesaikan kuliah s2 yang sudah berjalan satu tahun. Kini ada tambahan tugas baru yang sangat urgen. Yakni membantu memulihkan kondisi suami. Dan ini membutuhkan waktu ekstra agar kondisi suami bisa pulih seperti sedia kala.

Kini, aku menyadari betapa hampa saat suami terbaring lunglai tak berdaya. Ia yang dulu gagah perkasa, yang selalu melindungiku dan anak-anak, yang tak pernah lelah bekerja dan selalu membantu pekerjaan rumah dikala aku kepayahan. Aku yang biasanya dimanjakan sekarang harus melakukan apa-apa sendiri. Aku juga harus bisa melakukan tugas yang biasa dilakukan oleh suami. Dari mulai membetulkan listrik, mencuci mobil bahkan sampai urusan membetulkan genting terpaksa harus aku lakukan. Hal itu kulakukan karena dua anakku tinggal dikota malang untuk melanjutkan studinya. Sedangkan anakku yang masih kecil baru menginjak kelas 2 SD. Jadi aku harus bisa melakukan apapun sendiri. wonder woman itulah yang akhirnya menjadi julukanku dari teman-teman, kerabat dan anak-anakku.

Demi penyembuhan suami, apapun aku lakukan. Setiap apa yang orang katakan terkait dengan pengobatan stroke, selalu aku datangi. Dari mulai suntik stemcell yang harganya mencapai jutaan rupiah, pengobatan-pengobatan alternatif yang juga tidak sedikit biayanya. Itupun aku lakukan demi untuk kesembuhan suami. Selama hampir satu tahun lebih aku mengantarkan suami periksa baik ke dokter ataupun ke pengobatan alternatif. Berjuta-juta rupiah kuhabiskan untuk itu. Itu tidak mampu menyembuhkan 50 persen kesembuhan suami. Hingga biaya untuk pengobatan suami semakin menipis. Aku mulai mencoba melakukan terapi sendiri di rumah dengan metode terapi dari rumah sakit yang aku olah sendiri dengan menggunakan metode terapi mental.

Cerpen




TONGKAT UNTUK AYAH
FARIDA HANUM

1.    AYAHKU MEMANG HEBAT

“ Ayo terus..terus..,jangan cepat-cepat nak…!” teriak ayah sambil berlari-lari kecil mengikuti sepeda Najwa. “ Direm, sayang….!” Teriak ayah. Najwa berusaha mengerem sepedanya. Sepedanya berhenti bersamaan dengan kakinya menyentuh tanah. “ Horee …kamu bisa ! kamu bisa !” ayah bertepuk tangan sambil memeluk Najwa. Najwa ikut bersorak kegirangan.
Sudah satu minggu najwa belajar naik sepeda. Setiap sore selesai mengaji Najwa belajar naik sepeda bersama ayah. Ayah selalu sabar mengajari Najwa naik sepeda. “ ayo, nak..istirahat dulu, itu ibu sudah menyiapkan makanan untuk kita.” Ajak ayah. Najwa menuntun sepedanya, mengikuti langkah ayahnya menuju ke teras rumah. Di sana ibu sudah duduk santai sambil minum teh hangat. “ Ini minum tehnya dulu, nak..” ibu mengarahkan cangkir tehnya ke mulut Najwa. Sreeep…suara Najwa menyeruput teh yang disodorkan ibunya.
 “ Alhamdulillah…lega..” kata Najwa dengan nada bicara yang masih cadel. Kemudian Najwa mengambil pisang goreng buatan ibunya. Sambil mulutnya penuh dengan pisang goreng, Najwa menarik tangan ayahnya dan mengajaknya belajar naik sepeda lagi. “ Ayo ayah ! ajari aku lagi ..” rengek Najwa.
Ayah berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti tarikan tangan Najwa. Kali ini ayah hanya memegangi sepeda Najwa sebentar. “ Sudah siap nak…pelan-pelan saja, jangan ngebut !” ayah menasehati sambil melepas sepeda Najwa perlahan-lahan. Ayah tidak mengikuti sepeda Najwa, ia hanya melihat dari kejauhan. “ Ternyata Najwa sudah lancar bersepeda” pikir ayah. Najwa sangat gembira, karena sekarang ia sudah bisa naik sepeda sendiri.
Tak terasa dari kejauhan terdengar suara adzan maghrib. Ayah mengajak Najwa untuk sholat maghrib ke mushlolla yang tidak jauh dari rumah.   Selesai sholat maghrib, ayah masih harus mengajari Najwa belajar membaca dan menulis.
Setiap hari ayah selalu menyempatkan diri untuk memperhatikan Najwa. Setiap hari Najwa selalu belajar dan bermain dengan ayahnya sepulang dari kantor. Ayah mengajari bersepeda, bermain piano, membaca bahkan terkadang ayah menjadi kuda-kudaan dan Najwa naik diatas punggung ayahnya. Bahkan Najwa tidak mau tidur sebelum ayahnya mencium keningnya.
“Huaah…” suara Najwa tanda ia mulai mengantuk. “ sudah ngantuk ya..” tanya ayah. Ayah kemudian mengajak Najwa pergi ke kamar mandi, mencuci kaki dan tangan. “ jangan lupa gosok gigi ya nak..” perintah ayah.
Selesai menggosok gigi, Najwa digendong ayahnya dan dibaringkan ke tempat tidur. “ selamat tidur, nak..” kata ayah sambil mencium kening Najwa. “ Selamat tidur, aku sayang ayah.” Najwa membalas ucapan ayahnya. Ayah meninggalkan kamar Najwa. Tepat di pintu kamar, terdengar suara memanggil. “ Ayah..ayah..terima kasih ya.., ayah  memang hebat ! “ puji Najwa sambil memberikan jempol kepada ayahnya. Ayahnya berbalik arah dan menghampiri Najwa, kemudian memeluk Najwa erat-erat. “ Ayah sayang sekali sama Najwa.” Ayah tetap memeluk erat Najwa. “ Kamu juga hebat !” ayah juga memuji Najwa.
Ayah keluar dari kamar Najwa sambil mengeluarkan air mata tanda terharu. Ia merasa senang sekali karena Najwa selalu ceria dan gembira. Apalagi sekarang sudah bisa naik sepeda.



2.    AYAH JATUH SAKIT

Pagi-pagi sekali ayah sudah berangkat ke kantor. “ Ibu, kemana ayah Kok tidak membangunkan aku?” Najwa bertanya sambil mengucek-ucek matanya. Setiap pagi, ayah selalu membangunkan Najwa, menggendongnya dan mengantarkan ke kamar mandi. Tapi kali ini, ayah tidak datang ke kamarnya. Najwa terlihat sedih. “ Ayah berangkat lebih pagi nak.., di kantor ayah akan kedatangan tamu penting, makanya ayah harus menyiapakan segalanya lebih dulu.” Jelas ibu. “ ayo sekarang  mandi, terus sarapan. Ibu sudah bikinkan telur ceplok kesukaanmu.” Ibu membujuk Najwa.
Najwa sudah berseragam rapi, ibu Najwa memakaikan sepatu hitam dengan kaos kaki bergambar barbie kesukaan Najwa. “nah.. sudah rapi !, ayo sekarang kita berangkat.” Ibu mengantar Najwa berangkat ke sekolah. Najwa sekolah di SD.Unggulan Tanggulangin Sidoarjo, ia masih duduk di kelas 1.
Setiap hari najwa berangkat sekolah selalu diantar ayah. Terkadang ayah menggunakan kendaraan beroda empat, tetapi yang lebih sering ayah mengantarnya dengan menggunakan roda dua. hari ini Najwa diantar ibunya sampai pintu gerbang. “ Nanti tunggu ibu di depan pintu gerbng aja, jangan kemana-mana !” Tegas ibu Najwa menghawatirkannya. “ ya bu.” Jawab Najwa. Najwa masuk ke dalam kelas. Sementara ibunya pulang kembali.
Sore begini biasanya ayah sudah mengajak Najwa bermain. Ia tak pernah sekalipun menyia-nyiakan kesempatan bermain bersama Najwa. Tapi kali ini, ayah belum pulang. Najwa duduk sendiri di teras depan rumah sambil membawa boneka panda pemberian ayahnya. Najwa menunggu ayahnya. Najwa bermain sendirian, sementara ibu asyik membaca majalah.
Selang beberapa saat, ayah Najwa datang. Tiin..tin..klakson ayah mengagetkan Najwa. “ Hore.. ayah datang.” Sambut Najwa sambil meloncat kegirangan.
“ Assalamualaikum….
“ Waalaikum salam..kok ayah terlambat? Tanya Najwa.
 “ Maafkan ayah ya nak..” jawab ayah.
 ayah terlihat lelah, tapi ayah tetap tersenyum.  Ayah memeluk Najwa. “ Ayah mandi dulu ya…” jelas ayah, kemudian bergegas masuk ke dalam. Ibu mengikuti sambil membawakan tas ayah.
“ Badan ayah sakit semua bu..,” kata ayah. Ibu memegang badan ayah.           “ Iya..badan ayah panas !, jangan mandi ayah, nanti tambah panas. Ayah masuk ke kamar kemudian berbaring sambil memejamkan mata. Kepala ayah semakin berat. “ Kita periksa ya yah..” Ajak ibu. Ayah menolak, ia hanya ingin istirahat sebentar.
Ibu membuatkan teh hangat untuk ayah. Kemudian memberikannya ke ayah. “ ini yah..minum dulu..” kata ibu sambil memberikan secangkir teh. Ayah meminumnya, kemudian kembali berbaring ke tempat tidur. Selang beberapa saat terdengar teriakan ayah memanggil ibu.
Bu.. Ibu..!” teriak ayah, sambil bangun dari tidur. “kaki ayah lemas, ayah tidak bisa berdiri !” Ibu berlari menuju ke kamar. Terlihat ayah sudah duduk di samping tempat tidur. Ibu terhentak kaget, tanpa pikir panjang, ibu langsung  membopong ayah dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Ibu membawa ayah ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan, sakit ayah semakin parah tangan dan kakinya lunglai, mulutnya kaku sehingga bicaranya tidak bisa dimengerti. Ibu semakin panik, ia mempercepat laju kendaraannya.
Sesampai di rumah sakit, ibu memanggil perawat dan membawa ayah ke ruang UGD. ayah diperiksa dan diinfus. Ayah harus dirawat dirumah sakit. Ayah terserang stroke, begitu kata dokter. Ibu sangat kaget, dengan meneteskan air mata ibu memandangi ayah yang lemas lunglai tak berdaya.
Najwa menangis di gendongan ibu, ia terus memanggil-manggil ayah. Tapi ayah tidak bisa membalas panggilan Najwa. Mulut ayah seperti terkunci. Ibu mengusap air mata ayah. “ yang sabar ya ayah..ini ujian ayah.” Kata ibu menguatkan hati ayah. Ibu sendiri sebenarnya juga sangat  sedih melihat ayah mendadak jatuh sakit. Tapi ibu harus lebih tegar, demi ayah.
Sepuluh hari sudah ayah dirawat di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa ayah sudah boleh pulang. Tapi ayah harus duduk dikursi roda, karena ayah tidak bisa berjalan lagi. Tangan dan kaki sebelah kanan ayah lunglai.
“ Bapak sudah boleh pulang, makan-nya dijaga ya pak..” jelas pak dokter. Ayah hanya mengangguk saja. Dokter kemudian memberikan ibu resep untuk diminum di rumah dan menjelaskan larangan-larangan makanan untuk ayah.
Ibu membereskan barang-barang ayah selama tinggal di rumah sakit. Dengan menggunakan kursi roda ibu mendorongnya meninggalkan kamar rumah sakit.
Perasaan ayah sedih bercampur bahagia. Bahagia, karena ia sudah boleh pulang dari rumah saklit. Sedihnya, karena ia harus selalu berada di kursi roda. Ayah pasrah terhadap sakit yang di deritanya. “ Allah pasti punya rencana lain.” Batin ayah.





3.         KESEDIHAN AYAH
Tiba di rumah, ibu mendorong kursi roda ayah dan mengantarkan masuk ke kamar. Ibu mengangkat ayah dan menidurkannya. Ayah sangat sedih, ia tidak lagi seceriah dulu. Najwa juga ikut sedih, ia ingin ayahnya segera sembuh dan bisa bermain dengannya lagi. “ ayah cepat sembuh ya..,aku sayang ayah..” Najwa memeluk ayahnya. Ayah menahan air matanya supaya tidak keluar. Ia berusaha untuk  tetap tersenyum. Tapi, kesedihan ayah tetap tidak bisa disembunyikan.
Setelah keluar dari rumah sakit, ayah masih tetap berbaring di tempat tidur. Ia harus selalu berada di kursi roda. Setiap sore hari ibu mengajak ayah duduk di ruang tamu sambil menonton tivi. Meskipun ayah tidak berminat menonton tovi, tapi ayah hanya ingin melihat Najwa bermain ataupun belajar. Sekarang Najwa harus  melakukan apa saja  sendiri. Najwa tidak ingin mengganggu ayahnya. “ Ayah..lihat tulisan Najwa, sekarang sudah bagus.” Kata Najwa menunjukkan buku tulisnya ke ayah. Ayah memuji Najwa, meskipun dengan bicara yang masih terbata-bata. “ bagus nak !, ayah bangga padamu.” Jawab ayah.
Najwa bahagia sekali mendapat pujian dari ayahnya. Ia melanjutkan belajar menulis. Tulisan Najwa semakin bagus. Selesai menulis, Najwa membaca buku cerita dengan keras. “ ayah…dengarkan aku membaca cerita si kancil ya…” pinta Najwa. Ayah hanya mengangguk dan memberikan jempol kirinya kepada Najwa. Najwa membaca dengan keras. Ayah hanya tersenyum melihat mimik wajah anaknya yang lucu dan menggemaskan. “ lucu sekali anakku.” Batin ayah. Ibu duduk di samping ayah  memijat-mijat tangan ayah yang terkena stroke. Sesekali ibu membetulkan cara membaca Najwa.
“ sudah..capek !” Najwa menghentikkan membacanya dengan suara yang serak. Ibu menghampiri Najwa dan memberikan susu hangat.
“ Ibu.. kapan ayah sembuh ?” tanya Najwa sambil menghabiskan susu yang ia pegang.
“ Najwa harus berdoa, minta sama Allah supaya ayah segera sembuh.” Jawab ibu. Najwa meletakkan gelasnya, kemudian ia menengadahkan tangannya ke atas dan berdoa kepada Allah.
“ Ya allah !..berikan ayah kesembuhan, aku ingin bermain lagi sama ayah, cepat ya Allah sembuhkan ayahku. Amin..” Najwa menutup doanya sambil mengusapkan tangan ke wajahnya. Ayah terlihat meneteskan air mata. Ibu mendekatkan kursi roda ayah di sebelah kursi Najwa.
“ Terima kasih nak..Allah pasti mendengarkan do’a anak sholikhah seperti kamu.” Kata ayah sambil mengusap air matanya dengan tangan kiri. Ia tersenyum gembira melihat Najwa semakin pintar dan cerdas. Ayah sudah bisa tersenyum gembira. Tetapi di wajahnya masih tampak kesedihan karena sakit yang di deritanya. Ayah hanya pasrah kepada Allah. Ia terus berdoa agar diberi kekuatan dan sabar menerima cobaan ini.





4.    TONGKAT UNTUK AYAH
Tak terasa ayah mengalami sakit stroke sudah hampir tiga bulan. Selama itu pula ayah rajin terapi. Ayah memiliki semangat yang kuat untuk sembuh. Ayah sudah tidak menggunakan kursi roda lagi. Ayah sudah mulai belajar berjalan. Ayah belajar berjalan dengan menggunakan tongkat. Tapi sayangnya tongkat ayah bekas tongkat yang dipakai kakek. Tongkat kakek berkaki tiga dan sudah berkarat. Kakek juga terserang stroke. Kakek sudah lama meninggal dunia. Tongkat kakek disimpan ayah di gudang. Karena sudah cukup lama tongkat kaket jadi berkarat.  “ kasihan ayah, tongkatnya sudah jelek.” Najwa berbicara sendiri. “ Aku harus membelikan tongkat untuk ayah.” Pikir Najwa.
Najwa menghampiri ibunya di dapur. Ibunya menyiapkan makanan untuk ayahnya. Najwa ikut membantu membawa piring ayah. “ ibu, kasihan ayah, tongkatnya sudah jelek, Najwa ingin membelikan ayah tongkat .” Najwa meminta persetujuan ibunya. Ibunya mengangguk dan membisikkan sesuatu ke telinga Najwa. “ Huss.. jangan keras-keras !, nanti sore ayo ke toko alat kesehatan, kita carikan ayah tongkat yang bagus.” Bisik ibu. Najwa hanya mengangguk karena khawatir ayah mendengarnya.
Sore hari, setelah Najwa mengaji. Ibu mengajak Najwa ke toko alat kesehatan di Sidoarjo. Ibu dan Najwa berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Sementara ayah dititipkan kepada paman Hudi, saudara jauh ayah. Rumah paman Hudi tidak jauh dari rumah ayah. Setiap kali ibu meninggalkan ayah, paman Hudi yang bertugas menjaga ayah.
Di toko kesehatan, ibu memilih-milih tongkat yang cocok dan enak untuk di pakai ayah. Saking banyak macamnya, ibu kebingungan. Najwa membawa tongkat berwarna coklat. “ Ibu..ini ada tongkat bagus ..” Najwa menunjukkan tongkat yang ia bawa. Ibu mengambil tongkat itu dari tangan Najwa. “ waah..benar nak..kayaknya ini enak, coba lihat tongkatnya bisa dilipat.” Jelas ibu sambil mencoba melipat tongkat.
Di toko tersebut dijual berbagai macam jenis tongkat untuk penderita stroke. Ada tongkat yang melingkar seperti huruf “U”, tongkat ini dipakai untuk penderita stroke yang baru belajar berjalan. Ada tongkat yang berkaki tiga, ini di pakai untuk penderita yang sudah mulai lancar berjalan. Sedang untuk ayah adalah tongkat yang berkaki satu, karena ayah sudah bisa berjalan meskipun jalannya masih sedikit pincang.
Ibu memutuskan untuk membeli tongkat pilihan Najwa. “ Ayah pasti senang.” Kata Najwa kepada Ibu. “ iya..mudah-mudahan ayah tambah semangat belajar berjalan, dan bisa bermain bersama kamu lagi.” Harapan ibu. “ Amin..” sambut Najwa.
Ibu dan Najwa bergegas kembali pulang. Mereka tidak sabar untuk melihat reaksi ayah, melihat tongkat barunya. Sesampai di rumah, Najwa berlari dan memanggil ayahnya. “ ayah..ayah..! Najwa pulang.” Teriak Najwa. Najwa terus mencari ayahnya. Tapi ayahnya tidak terlihat. Najwa terus mencari ke teras belakang, dimana biasanya ayah senang berlama-lama di teras belakang. Ayahnya duduk santai di teras belakang, sambil melatih tangannya yang masih belum bisa di gerakkan.
“ Assalamualaikum, ayah..” Najwa mengagetkan ayahnya.
“ Wa’alaikum salam, eh..anak ayah sudah datang.” Jawab ayah.
“ coba lihat apa yang dibawa Najwa.” Kata Najwa sambil menunjukkan sesuatu di tangannya. “ Coba ayah tebak ! kira-kira apa yang dibawa Najwa.”
“ Pasti obat ayah..atau makanan untuk ayah ya…” ayah berusaha menebak.
“ Salah… !” Najwa mentertawakan ayahnya.
Najwa memberikan bungkusan kepada ayah. Najwa membantunya membuka bungkusan tersebut. Dan…ayah terbelalak kaget bercampur bahagia.
 “ ini tongkat untuk ayah.” Kata Najwa.
“ terima kasih, nak…ayah senang sekali.” Kata ayah dengan nada gembira.
Ayah mencoba tongkat baru itu, ia berjalan mengelilingi teras sambil tersenyum tanda bahagia. Najwa ikut gembira, melihat ayahnya semakin semangat belajar berjalan.
Hari ini, hari Minggu. Najwa libur sekolah. ia ingin menemani ayah berlatih di belakang rumah. Dengan tongkat barunya ayah belajar berjalan, Najwa menggandeng tangan ayah sambil menyanyi. Ayah semakin semangat berlatih.
Selesai berlatih jalan, ayah mengerakkan badannya ke samping kanan dan ke kiri, berulang  kali. Kemudian menggerakkan kepalanya ke bawah dan ke atas. Ayah melakukan olah raga ringan sesuai dengan kemampuan tubuhnya. Ayah sudah mulai berkeringat. “ ayo nak, istirahat.., ayah sudah capek.”
Ayah sudah terlihat segar. Setelah berolah raga ringan dan berjemur di terik matahari pagi. Ayah menikmati sarapan nasi pecel buatan ibu. Makan ayah sudah tidak seperti dulu lagi. Kalau dulu, ayah sering makan di luar rumah, bersama teman kantornya. Tapi sekarang, dokter melarang makan makanan yang berlemak, ayah harus banyak makan sayur.
Berkat tongkat yang diberi Najwa serta kesungguhan ayah berlatih membuahkan hasil yang menyenangkan. Ayah sudah bisa berjalan.

Artikel

  MEMILIH SEKOLAH,  BERKELAS   ATAU BERKUALITAS ? ? Oleh : Dra   Farida Hanum M.Pd               Sebentar lagi para orang tua dibuat...