Sunday, August 4, 2019

Profil


PROFIL


FARIDA HANUM, Lahir di Sidoarjo 01 Januari 1968, Tinggal di kota lumpur Lapindo Porong Sidoarjo. Menyelesaikan S1 fakultas Tarbiyah di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Pasuruan (1992), kemudian menyelesaikan S2 program Studi Manajemen Pendidikan Agama Islam di STIT. Al-Khoziny Buduran Sidoarjo (2016).
Penulis adalah seorang ASN di lingkungan Kementerian Agama Islam Kabupaten Sidoarjo, tepatnya menjadi pendidik yang di perbantukan di MI. ASASUL HUDA Randegan Tanggulangin Sidoarjo.
puluhan karya buku baik monologi maupun antologi, Menulis artikel pendidikan, parenting, cerpen maupun puisi di berbagai media koran, Majalah dan juga aktif sebagai seorang blogger, kompasiana.com. Bergabung di Gerakan Budaya Literasi (GBL) Sidoarjo Tahun 2016 menghasilkan buku keroyokan ‘berkarya tanpa jeda’ dan kumpulan puisi ‘mutiaraku’. Penggiat Literasi sekaligus influencer literasi pada Madrasah maupun sekolah.
Karya penulis, buku tentang pendidikan diantaranya; sosok guru kekinian (berkarya dan berinovasi menggunakan Digital) 2020, Best Practise sang Jawara (2021), Jadilah Bidadari Anakku, Yuk Menulis, Nak, Kumpulan Cerpen; Titisan kupu-kupu malam(2024), Jeratan Drugs (2022), Kasih tanpa Asa (2022), Flamboyan Tlah pergi (2024), Asmara Doken ( 2024), Tuhan Jangan Renggut Kakiku (2024) Fabel; Terperangkap Monster Gadget (2024),Ici Si Buruk Rupa (2019), dan masih banyak lagi karya-karya yang tidak bisa diekspos seluruhnya.
Penulis bisa dihubungi melalui surel; mamhanum@gmail.com. IG;hanum_faiz, FB;Farida Hanum, www.kompasiana.com/mamhanum/               



Saturday, August 3, 2019

Hubungi Saya


Penulis bisa dihubungi melalui surel; mamhanum@gmail.com. Atau nomor; 081331236394                 
akun telegram: MamHanum

Inspirasi



KEKUATAN ISTRI SEMANGAT SUAMI
Oleh: Farida Hanum

Sebenarnya cerita ini, adalah cerita yang biasa, tidak ada sesuatu yang menarik yang bisa dijadikan inspirasi bagi para wanita ataupun para istri. Saya hanya menulis cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi dengan harapan cerita ini setidaknya bisa memberikan sedikit ilmu kepada para istri, para ibu, ataupun para wanita yang diuji oleh Allah untuk merawat suaminya yang menderita sakit. Terutama penyakit stroke yang jelas-jelas membutuhkan ekstra perhatian seorang istri.

Kisah ini terjadi sekitar tiga tahun yang lalu, disaat suamiku terserang stroke untuk yang pertama kalinya. Terserangnya stroke terjadi disaat suami dalam posisi mengendarai mobil, beserta diriku yang duduk disebelah suami. Namun tiba-tiba saja tangan dan kakinya layu, lunglai tak bertenaga dengan mulut yang tiba-tiba “perot” serta berbicara yang tidak jelas. Sementara mobil terus meluncur dengan sendirinya. Aku “shock”, bingung harus melakukan apa. Spontanitas aku langsung tarik handrem supaya mobil terhenti, sementara suami langsung aku angkat pindah posisi duduk di sebelah sopir. Aku langsung beralih ke posisi duduk sopir, langsung tancap gas melajukan mobil menuju rumah sakit. Jangankan menyetir mobil, menstater mobil saja aku belum bisa, kok tiba-tiba harus menyetir mobil demi untuk menyelamatkan suami. Aku tidak ambil pusing, yang penting mobil bisa segera sampai dirumah sakit, itu pikirku. Ternyata Allah membimbingku, entah bagaimana caranya aku sendiri tidak menyadarinya, mobil itupun akhirnya sampai di rumah sakit. Segera suami aku bawa ke ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan. Terpaksa suami harus menjalani opname, untuk meng-obsevasi faktor penyebab terserang stroke. 

Sepuluh hari pasca opname suamiku belum menunjukkan tanda-tanda kebaikan. Kakinya masih terlalu lemas untuk dipakai berjalan, bahkan tangannya sama sekali tidak bisa digerakkan, layu lunglai seakan benar-benar mati. Butuh waktu lama untuk pemulihan. Disatu sisi aku punya tanggung jawab dengan kedinasanku, dengan urusan rumah dan anak-anak, belum lagi tanggung jawabku menyelesaikan kuliah s2 yang sudah berjalan satu tahun. Kini ada tambahan tugas baru yang sangat urgen. Yakni membantu memulihkan kondisi suami. Dan ini membutuhkan waktu ekstra agar kondisi suami bisa pulih seperti sedia kala.

Kini, aku menyadari betapa hampa saat suami terbaring lunglai tak berdaya. Ia yang dulu gagah perkasa, yang selalu melindungiku dan anak-anak, yang tak pernah lelah bekerja dan selalu membantu pekerjaan rumah dikala aku kepayahan. Aku yang biasanya dimanjakan sekarang harus melakukan apa-apa sendiri. Aku juga harus bisa melakukan tugas yang biasa dilakukan oleh suami. Dari mulai membetulkan listrik, mencuci mobil bahkan sampai urusan membetulkan genting terpaksa harus aku lakukan. Hal itu kulakukan karena dua anakku tinggal dikota malang untuk melanjutkan studinya. Sedangkan anakku yang masih kecil baru menginjak kelas 2 SD. Jadi aku harus bisa melakukan apapun sendiri. wonder woman itulah yang akhirnya menjadi julukanku dari teman-teman, kerabat dan anak-anakku.

Demi penyembuhan suami, apapun aku lakukan. Setiap apa yang orang katakan terkait dengan pengobatan stroke, selalu aku datangi. Dari mulai suntik stemcell yang harganya mencapai jutaan rupiah, pengobatan-pengobatan alternatif yang juga tidak sedikit biayanya. Itupun aku lakukan demi untuk kesembuhan suami. Selama hampir satu tahun lebih aku mengantarkan suami periksa baik ke dokter ataupun ke pengobatan alternatif. Berjuta-juta rupiah kuhabiskan untuk itu. Itu tidak mampu menyembuhkan 50 persen kesembuhan suami. Hingga biaya untuk pengobatan suami semakin menipis. Aku mulai mencoba melakukan terapi sendiri di rumah dengan metode terapi dari rumah sakit yang aku olah sendiri dengan menggunakan metode terapi mental.

Cerpen




TONGKAT UNTUK AYAH
FARIDA HANUM

1.    AYAHKU MEMANG HEBAT

“ Ayo terus..terus..,jangan cepat-cepat nak…!” teriak ayah sambil berlari-lari kecil mengikuti sepeda Najwa. “ Direm, sayang….!” Teriak ayah. Najwa berusaha mengerem sepedanya. Sepedanya berhenti bersamaan dengan kakinya menyentuh tanah. “ Horee …kamu bisa ! kamu bisa !” ayah bertepuk tangan sambil memeluk Najwa. Najwa ikut bersorak kegirangan.
Sudah satu minggu najwa belajar naik sepeda. Setiap sore selesai mengaji Najwa belajar naik sepeda bersama ayah. Ayah selalu sabar mengajari Najwa naik sepeda. “ ayo, nak..istirahat dulu, itu ibu sudah menyiapkan makanan untuk kita.” Ajak ayah. Najwa menuntun sepedanya, mengikuti langkah ayahnya menuju ke teras rumah. Di sana ibu sudah duduk santai sambil minum teh hangat. “ Ini minum tehnya dulu, nak..” ibu mengarahkan cangkir tehnya ke mulut Najwa. Sreeep…suara Najwa menyeruput teh yang disodorkan ibunya.
 “ Alhamdulillah…lega..” kata Najwa dengan nada bicara yang masih cadel. Kemudian Najwa mengambil pisang goreng buatan ibunya. Sambil mulutnya penuh dengan pisang goreng, Najwa menarik tangan ayahnya dan mengajaknya belajar naik sepeda lagi. “ Ayo ayah ! ajari aku lagi ..” rengek Najwa.
Ayah berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti tarikan tangan Najwa. Kali ini ayah hanya memegangi sepeda Najwa sebentar. “ Sudah siap nak…pelan-pelan saja, jangan ngebut !” ayah menasehati sambil melepas sepeda Najwa perlahan-lahan. Ayah tidak mengikuti sepeda Najwa, ia hanya melihat dari kejauhan. “ Ternyata Najwa sudah lancar bersepeda” pikir ayah. Najwa sangat gembira, karena sekarang ia sudah bisa naik sepeda sendiri.
Tak terasa dari kejauhan terdengar suara adzan maghrib. Ayah mengajak Najwa untuk sholat maghrib ke mushlolla yang tidak jauh dari rumah.   Selesai sholat maghrib, ayah masih harus mengajari Najwa belajar membaca dan menulis.
Setiap hari ayah selalu menyempatkan diri untuk memperhatikan Najwa. Setiap hari Najwa selalu belajar dan bermain dengan ayahnya sepulang dari kantor. Ayah mengajari bersepeda, bermain piano, membaca bahkan terkadang ayah menjadi kuda-kudaan dan Najwa naik diatas punggung ayahnya. Bahkan Najwa tidak mau tidur sebelum ayahnya mencium keningnya.
“Huaah…” suara Najwa tanda ia mulai mengantuk. “ sudah ngantuk ya..” tanya ayah. Ayah kemudian mengajak Najwa pergi ke kamar mandi, mencuci kaki dan tangan. “ jangan lupa gosok gigi ya nak..” perintah ayah.
Selesai menggosok gigi, Najwa digendong ayahnya dan dibaringkan ke tempat tidur. “ selamat tidur, nak..” kata ayah sambil mencium kening Najwa. “ Selamat tidur, aku sayang ayah.” Najwa membalas ucapan ayahnya. Ayah meninggalkan kamar Najwa. Tepat di pintu kamar, terdengar suara memanggil. “ Ayah..ayah..terima kasih ya.., ayah  memang hebat ! “ puji Najwa sambil memberikan jempol kepada ayahnya. Ayahnya berbalik arah dan menghampiri Najwa, kemudian memeluk Najwa erat-erat. “ Ayah sayang sekali sama Najwa.” Ayah tetap memeluk erat Najwa. “ Kamu juga hebat !” ayah juga memuji Najwa.
Ayah keluar dari kamar Najwa sambil mengeluarkan air mata tanda terharu. Ia merasa senang sekali karena Najwa selalu ceria dan gembira. Apalagi sekarang sudah bisa naik sepeda.



2.    AYAH JATUH SAKIT

Pagi-pagi sekali ayah sudah berangkat ke kantor. “ Ibu, kemana ayah Kok tidak membangunkan aku?” Najwa bertanya sambil mengucek-ucek matanya. Setiap pagi, ayah selalu membangunkan Najwa, menggendongnya dan mengantarkan ke kamar mandi. Tapi kali ini, ayah tidak datang ke kamarnya. Najwa terlihat sedih. “ Ayah berangkat lebih pagi nak.., di kantor ayah akan kedatangan tamu penting, makanya ayah harus menyiapakan segalanya lebih dulu.” Jelas ibu. “ ayo sekarang  mandi, terus sarapan. Ibu sudah bikinkan telur ceplok kesukaanmu.” Ibu membujuk Najwa.
Najwa sudah berseragam rapi, ibu Najwa memakaikan sepatu hitam dengan kaos kaki bergambar barbie kesukaan Najwa. “nah.. sudah rapi !, ayo sekarang kita berangkat.” Ibu mengantar Najwa berangkat ke sekolah. Najwa sekolah di SD.Unggulan Tanggulangin Sidoarjo, ia masih duduk di kelas 1.
Setiap hari najwa berangkat sekolah selalu diantar ayah. Terkadang ayah menggunakan kendaraan beroda empat, tetapi yang lebih sering ayah mengantarnya dengan menggunakan roda dua. hari ini Najwa diantar ibunya sampai pintu gerbang. “ Nanti tunggu ibu di depan pintu gerbng aja, jangan kemana-mana !” Tegas ibu Najwa menghawatirkannya. “ ya bu.” Jawab Najwa. Najwa masuk ke dalam kelas. Sementara ibunya pulang kembali.
Sore begini biasanya ayah sudah mengajak Najwa bermain. Ia tak pernah sekalipun menyia-nyiakan kesempatan bermain bersama Najwa. Tapi kali ini, ayah belum pulang. Najwa duduk sendiri di teras depan rumah sambil membawa boneka panda pemberian ayahnya. Najwa menunggu ayahnya. Najwa bermain sendirian, sementara ibu asyik membaca majalah.
Selang beberapa saat, ayah Najwa datang. Tiin..tin..klakson ayah mengagetkan Najwa. “ Hore.. ayah datang.” Sambut Najwa sambil meloncat kegirangan.
“ Assalamualaikum….
“ Waalaikum salam..kok ayah terlambat? Tanya Najwa.
 “ Maafkan ayah ya nak..” jawab ayah.
 ayah terlihat lelah, tapi ayah tetap tersenyum.  Ayah memeluk Najwa. “ Ayah mandi dulu ya…” jelas ayah, kemudian bergegas masuk ke dalam. Ibu mengikuti sambil membawakan tas ayah.
“ Badan ayah sakit semua bu..,” kata ayah. Ibu memegang badan ayah.           “ Iya..badan ayah panas !, jangan mandi ayah, nanti tambah panas. Ayah masuk ke kamar kemudian berbaring sambil memejamkan mata. Kepala ayah semakin berat. “ Kita periksa ya yah..” Ajak ibu. Ayah menolak, ia hanya ingin istirahat sebentar.
Ibu membuatkan teh hangat untuk ayah. Kemudian memberikannya ke ayah. “ ini yah..minum dulu..” kata ibu sambil memberikan secangkir teh. Ayah meminumnya, kemudian kembali berbaring ke tempat tidur. Selang beberapa saat terdengar teriakan ayah memanggil ibu.
Bu.. Ibu..!” teriak ayah, sambil bangun dari tidur. “kaki ayah lemas, ayah tidak bisa berdiri !” Ibu berlari menuju ke kamar. Terlihat ayah sudah duduk di samping tempat tidur. Ibu terhentak kaget, tanpa pikir panjang, ibu langsung  membopong ayah dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Ibu membawa ayah ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan, sakit ayah semakin parah tangan dan kakinya lunglai, mulutnya kaku sehingga bicaranya tidak bisa dimengerti. Ibu semakin panik, ia mempercepat laju kendaraannya.
Sesampai di rumah sakit, ibu memanggil perawat dan membawa ayah ke ruang UGD. ayah diperiksa dan diinfus. Ayah harus dirawat dirumah sakit. Ayah terserang stroke, begitu kata dokter. Ibu sangat kaget, dengan meneteskan air mata ibu memandangi ayah yang lemas lunglai tak berdaya.
Najwa menangis di gendongan ibu, ia terus memanggil-manggil ayah. Tapi ayah tidak bisa membalas panggilan Najwa. Mulut ayah seperti terkunci. Ibu mengusap air mata ayah. “ yang sabar ya ayah..ini ujian ayah.” Kata ibu menguatkan hati ayah. Ibu sendiri sebenarnya juga sangat  sedih melihat ayah mendadak jatuh sakit. Tapi ibu harus lebih tegar, demi ayah.
Sepuluh hari sudah ayah dirawat di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa ayah sudah boleh pulang. Tapi ayah harus duduk dikursi roda, karena ayah tidak bisa berjalan lagi. Tangan dan kaki sebelah kanan ayah lunglai.
“ Bapak sudah boleh pulang, makan-nya dijaga ya pak..” jelas pak dokter. Ayah hanya mengangguk saja. Dokter kemudian memberikan ibu resep untuk diminum di rumah dan menjelaskan larangan-larangan makanan untuk ayah.
Ibu membereskan barang-barang ayah selama tinggal di rumah sakit. Dengan menggunakan kursi roda ibu mendorongnya meninggalkan kamar rumah sakit.
Perasaan ayah sedih bercampur bahagia. Bahagia, karena ia sudah boleh pulang dari rumah saklit. Sedihnya, karena ia harus selalu berada di kursi roda. Ayah pasrah terhadap sakit yang di deritanya. “ Allah pasti punya rencana lain.” Batin ayah.





3.         KESEDIHAN AYAH
Tiba di rumah, ibu mendorong kursi roda ayah dan mengantarkan masuk ke kamar. Ibu mengangkat ayah dan menidurkannya. Ayah sangat sedih, ia tidak lagi seceriah dulu. Najwa juga ikut sedih, ia ingin ayahnya segera sembuh dan bisa bermain dengannya lagi. “ ayah cepat sembuh ya..,aku sayang ayah..” Najwa memeluk ayahnya. Ayah menahan air matanya supaya tidak keluar. Ia berusaha untuk  tetap tersenyum. Tapi, kesedihan ayah tetap tidak bisa disembunyikan.
Setelah keluar dari rumah sakit, ayah masih tetap berbaring di tempat tidur. Ia harus selalu berada di kursi roda. Setiap sore hari ibu mengajak ayah duduk di ruang tamu sambil menonton tivi. Meskipun ayah tidak berminat menonton tovi, tapi ayah hanya ingin melihat Najwa bermain ataupun belajar. Sekarang Najwa harus  melakukan apa saja  sendiri. Najwa tidak ingin mengganggu ayahnya. “ Ayah..lihat tulisan Najwa, sekarang sudah bagus.” Kata Najwa menunjukkan buku tulisnya ke ayah. Ayah memuji Najwa, meskipun dengan bicara yang masih terbata-bata. “ bagus nak !, ayah bangga padamu.” Jawab ayah.
Najwa bahagia sekali mendapat pujian dari ayahnya. Ia melanjutkan belajar menulis. Tulisan Najwa semakin bagus. Selesai menulis, Najwa membaca buku cerita dengan keras. “ ayah…dengarkan aku membaca cerita si kancil ya…” pinta Najwa. Ayah hanya mengangguk dan memberikan jempol kirinya kepada Najwa. Najwa membaca dengan keras. Ayah hanya tersenyum melihat mimik wajah anaknya yang lucu dan menggemaskan. “ lucu sekali anakku.” Batin ayah. Ibu duduk di samping ayah  memijat-mijat tangan ayah yang terkena stroke. Sesekali ibu membetulkan cara membaca Najwa.
“ sudah..capek !” Najwa menghentikkan membacanya dengan suara yang serak. Ibu menghampiri Najwa dan memberikan susu hangat.
“ Ibu.. kapan ayah sembuh ?” tanya Najwa sambil menghabiskan susu yang ia pegang.
“ Najwa harus berdoa, minta sama Allah supaya ayah segera sembuh.” Jawab ibu. Najwa meletakkan gelasnya, kemudian ia menengadahkan tangannya ke atas dan berdoa kepada Allah.
“ Ya allah !..berikan ayah kesembuhan, aku ingin bermain lagi sama ayah, cepat ya Allah sembuhkan ayahku. Amin..” Najwa menutup doanya sambil mengusapkan tangan ke wajahnya. Ayah terlihat meneteskan air mata. Ibu mendekatkan kursi roda ayah di sebelah kursi Najwa.
“ Terima kasih nak..Allah pasti mendengarkan do’a anak sholikhah seperti kamu.” Kata ayah sambil mengusap air matanya dengan tangan kiri. Ia tersenyum gembira melihat Najwa semakin pintar dan cerdas. Ayah sudah bisa tersenyum gembira. Tetapi di wajahnya masih tampak kesedihan karena sakit yang di deritanya. Ayah hanya pasrah kepada Allah. Ia terus berdoa agar diberi kekuatan dan sabar menerima cobaan ini.





4.    TONGKAT UNTUK AYAH
Tak terasa ayah mengalami sakit stroke sudah hampir tiga bulan. Selama itu pula ayah rajin terapi. Ayah memiliki semangat yang kuat untuk sembuh. Ayah sudah tidak menggunakan kursi roda lagi. Ayah sudah mulai belajar berjalan. Ayah belajar berjalan dengan menggunakan tongkat. Tapi sayangnya tongkat ayah bekas tongkat yang dipakai kakek. Tongkat kakek berkaki tiga dan sudah berkarat. Kakek juga terserang stroke. Kakek sudah lama meninggal dunia. Tongkat kakek disimpan ayah di gudang. Karena sudah cukup lama tongkat kaket jadi berkarat.  “ kasihan ayah, tongkatnya sudah jelek.” Najwa berbicara sendiri. “ Aku harus membelikan tongkat untuk ayah.” Pikir Najwa.
Najwa menghampiri ibunya di dapur. Ibunya menyiapkan makanan untuk ayahnya. Najwa ikut membantu membawa piring ayah. “ ibu, kasihan ayah, tongkatnya sudah jelek, Najwa ingin membelikan ayah tongkat .” Najwa meminta persetujuan ibunya. Ibunya mengangguk dan membisikkan sesuatu ke telinga Najwa. “ Huss.. jangan keras-keras !, nanti sore ayo ke toko alat kesehatan, kita carikan ayah tongkat yang bagus.” Bisik ibu. Najwa hanya mengangguk karena khawatir ayah mendengarnya.
Sore hari, setelah Najwa mengaji. Ibu mengajak Najwa ke toko alat kesehatan di Sidoarjo. Ibu dan Najwa berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Sementara ayah dititipkan kepada paman Hudi, saudara jauh ayah. Rumah paman Hudi tidak jauh dari rumah ayah. Setiap kali ibu meninggalkan ayah, paman Hudi yang bertugas menjaga ayah.
Di toko kesehatan, ibu memilih-milih tongkat yang cocok dan enak untuk di pakai ayah. Saking banyak macamnya, ibu kebingungan. Najwa membawa tongkat berwarna coklat. “ Ibu..ini ada tongkat bagus ..” Najwa menunjukkan tongkat yang ia bawa. Ibu mengambil tongkat itu dari tangan Najwa. “ waah..benar nak..kayaknya ini enak, coba lihat tongkatnya bisa dilipat.” Jelas ibu sambil mencoba melipat tongkat.
Di toko tersebut dijual berbagai macam jenis tongkat untuk penderita stroke. Ada tongkat yang melingkar seperti huruf “U”, tongkat ini dipakai untuk penderita stroke yang baru belajar berjalan. Ada tongkat yang berkaki tiga, ini di pakai untuk penderita yang sudah mulai lancar berjalan. Sedang untuk ayah adalah tongkat yang berkaki satu, karena ayah sudah bisa berjalan meskipun jalannya masih sedikit pincang.
Ibu memutuskan untuk membeli tongkat pilihan Najwa. “ Ayah pasti senang.” Kata Najwa kepada Ibu. “ iya..mudah-mudahan ayah tambah semangat belajar berjalan, dan bisa bermain bersama kamu lagi.” Harapan ibu. “ Amin..” sambut Najwa.
Ibu dan Najwa bergegas kembali pulang. Mereka tidak sabar untuk melihat reaksi ayah, melihat tongkat barunya. Sesampai di rumah, Najwa berlari dan memanggil ayahnya. “ ayah..ayah..! Najwa pulang.” Teriak Najwa. Najwa terus mencari ayahnya. Tapi ayahnya tidak terlihat. Najwa terus mencari ke teras belakang, dimana biasanya ayah senang berlama-lama di teras belakang. Ayahnya duduk santai di teras belakang, sambil melatih tangannya yang masih belum bisa di gerakkan.
“ Assalamualaikum, ayah..” Najwa mengagetkan ayahnya.
“ Wa’alaikum salam, eh..anak ayah sudah datang.” Jawab ayah.
“ coba lihat apa yang dibawa Najwa.” Kata Najwa sambil menunjukkan sesuatu di tangannya. “ Coba ayah tebak ! kira-kira apa yang dibawa Najwa.”
“ Pasti obat ayah..atau makanan untuk ayah ya…” ayah berusaha menebak.
“ Salah… !” Najwa mentertawakan ayahnya.
Najwa memberikan bungkusan kepada ayah. Najwa membantunya membuka bungkusan tersebut. Dan…ayah terbelalak kaget bercampur bahagia.
 “ ini tongkat untuk ayah.” Kata Najwa.
“ terima kasih, nak…ayah senang sekali.” Kata ayah dengan nada gembira.
Ayah mencoba tongkat baru itu, ia berjalan mengelilingi teras sambil tersenyum tanda bahagia. Najwa ikut gembira, melihat ayahnya semakin semangat belajar berjalan.
Hari ini, hari Minggu. Najwa libur sekolah. ia ingin menemani ayah berlatih di belakang rumah. Dengan tongkat barunya ayah belajar berjalan, Najwa menggandeng tangan ayah sambil menyanyi. Ayah semakin semangat berlatih.
Selesai berlatih jalan, ayah mengerakkan badannya ke samping kanan dan ke kiri, berulang  kali. Kemudian menggerakkan kepalanya ke bawah dan ke atas. Ayah melakukan olah raga ringan sesuai dengan kemampuan tubuhnya. Ayah sudah mulai berkeringat. “ ayo nak, istirahat.., ayah sudah capek.”
Ayah sudah terlihat segar. Setelah berolah raga ringan dan berjemur di terik matahari pagi. Ayah menikmati sarapan nasi pecel buatan ibu. Makan ayah sudah tidak seperti dulu lagi. Kalau dulu, ayah sering makan di luar rumah, bersama teman kantornya. Tapi sekarang, dokter melarang makan makanan yang berlemak, ayah harus banyak makan sayur.
Berkat tongkat yang diberi Najwa serta kesungguhan ayah berlatih membuahkan hasil yang menyenangkan. Ayah sudah bisa berjalan.

Kegiatan daring



MENULIS CERPEN BAGI PEMULA 
Oleh : Dra FARIDA HANUM M.Pd
MI.Asasul Huda Randegan Tanggulangin 





Tidak bisa dipungkiri, guru adalah sosok penting dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. ditangan gurulah seorang murid mengenal baca tulis. Karena bimbingan gurulah seorang anak lancar membaca dan rajin menulis. Guru sebagai figur kebanggaan murid-muridnya seharusnya mampu mengembangkan potensi pada dirinya untuk bisa mengantarkan mereka menjadi generasi yang cakap, kreatif, serta memiliki skill yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian generasi penerus bangsa ini tidak lagi men-dewakan gadget, dan cakap dalam permainan game di gadget mereka. Menjadi sosok figur yang diharapkan, guru dituntut tidak hanya rajin membaca, mengajarkan ilmu yang dibaca, namun juga tajam mengasah pikiran untuk dituangkan dalam kata demi kata hingga menjadi kalimat yang menarik untuk dibaca banyak orang. Sebagian orang memahami bahwa tuntutan ini memang berlebihan, beban mengajar seorang guru yang sudah sedemikian padat, belum lagi mendidik moral dan prilaku pelajar, di rumah guru pun harus menjalankan tugas domestiknya mengapa harus ditambah beban mereka. Benar, pada satu sisi terlihat berat, namun jika kita melihat jauh ke depan terkait masa depan bangsa ini sekitar 10-20 tahun ke depan akan banyak generasi cerdas yang bisa kita lihat. Korelasinya adalah jika pendidik memiliki kemampuan menulis yang baik, kemudian menularkan kepada siswa tentu akan lahir anak-anak muda berbakat. Karena ditangan mereka nasib bangsa ini ditentukan, yang secara tidak langsung akan berpengaruh positif bagi kehidupan guru itu sendiri kelak di hari tua. Jadi sebenarnya melatih diri untuk terampil menulis adalah wujud investasi di hari tua. 

Pada dasarnya menulis itu tidaklah sulit seperti dibayangkan oleh banyak orang. Aktifitas menulis bisa dilakukan oleh siapapun dan dimanapun, termasuk juga guru. Seseorang tidak akan mengetahui dirinya mampu menulis jika tidak pernah mencoba. Hanya butuh pembiasaan saja, karena menulis adalah sebuah proses yang harus dilalui oleh seseorang. Apapun yang ditulis tidak ada yang sia-sia, karena suatu saat kelak yang ditulis akan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi diri dan orang lain. Namun kenyataan masih banyak guru yang enggan untuk menulis. Alasan mereka simpel, bahwa mereka tidak bisa menemukan alasan mengapa mereka harus menulis, atau mereka para guru tidak tahu cara memulai untuk menulis, kebanyakan alasan mereka adalah tidak punya ide menulis, atau kalaupun punya ide untuk menulis, dan ketika sudah memulai menulis mereka tidak mampu untuk menyelesaikannya (ide mandeg di tengah jalan). saat guru tak mampu menulis, maka akan muncul banyak kecurangan-kecurangan yang akan mereka lakukan hanya untuk memenuhi sebuah tuntutan, sebut saja misalnya, saat guru usul penilaian angka kredit, dimana salah satu tugas yang harus dilampirkan adalah membuat karya tulis ilmiah maupun penelitian tindakan kelas (PTK). Guru yang tidak mampu merangkai kalimat demi kalimat akan kesulitan untuk membuat sebuah karya tulis maupun PTK, yang akhirnya muncul plagiatisme. Mereka cukup copy paste karya tulis maupun PTK orang lain, dan mengganti dengan nama mereka. Sungguh, hal ini bukan merupakan sesuatu yang asing lagi, dimana saja terdapat guru yang masih menggunakan kecurangan hanya untuk sebuah kebaikan 

Berbeda dengan guru yang memiliki kesadaran tinggi untuk menulis, apapun yang mereka lakukan, apapun yang mereka bicarakan, pengalaman menyenangkan maupun menyedihkan, semua bisa menjadi sebuah tulisan. Ada banyak jenis tulisan yang bisa menjadi satu pilihan bagi seorang penulis untuk menuangkan segala bentuk ide dalam pikiran mereka. Diantara jenis-jenis tulisan tersebut adalah; 

1. Otobiografi yaitu jenis tulisan yang menceritakan tentang kehidupan seorang penulis, bisa berupa pengalaman ataupun kenangan penting yang pernah dilakukan. 

2. Ulasan buku yaitu kegiatan mengulas buku seseorang, dengan tujuan memberikan gambaran pada isi buku. Ulasan bisa berpengaruh besar pada penjualan buku. Apabila ulasan baik maka secara otomatis, penjualan buku akan menunjukkan hasil yang besar, begitu pula sebaliknya. 

3. Sketsa karakter yaitu menggambarkan karakteristik seseorang , bisa dikaitkan dengan pekerjaan maupun lainnya. Jenis tulisan bentuk sketsa karakter bisa dilihat di koran-koran maupun bulletin humor. 

4. Komik (cerita bergambar) yaitu jenis tulisan yang ditunjukkan melalui gambar. Komik banyak digemari oleh siapa saja, baik tua maupun muda. 

5. Diari (buku harian) yaitu jenis tulisan yang menceritakan tentang kegiatan seseorang (perjalanan hidup) yang pernah dialami oleh penulis. 

6. Fabel yaitu jenis tulisan yang menggunakan hewan berperilaku dan berbicara seperti manusia. Fabel merupakan sebuah dongeng, seperti misalnya: Si Moli sebuah karya penulis yang menceritakan tentang kehidupan ikan yang malang. 


Secara spesifik, tulisan dibedakan menjadi dua yaitu 

1. Fiksi/ fiktif adalah sesuatu yang tidak nyata atau khayalan. Tulisan ini pada umumnya berbentuk sebuah buku yang merupakan wujud khayalan, imajinasi dari seorang penulis. Buku yang tidak membutuhkan suatu pengamatan serta diperlukan pertanggung jawaban akan kebenarannya. Yang termasuk buku fiksi misalnya: cerpen (cerita Pendek), novel, fabel, komik, kumpulan puisi, hikayat. 

2. Nonfiksi merupakan tulisan yang dibuat berdasarkan kenyataan (based on fact). Buku nonfiksi merupakan sebuah buku yang berisi tentang kejadian yang sebenarnya sebagai sebuah informasi, dengan menggunakan beberapa data dan pengamatan. Karena buku nonfiksi harus dipertanggung jawabkan. Contoh nonfiksi misalnya; laporan ilmiah (skripsi, tesis, disertasi), opini, jurnal, biografi, dsb. 

Sesuai judul pada artikel ini, penulis menfokuskan pada cara menulis cerpen bagi pemula, tujuan utama ialah mengajak semua guru khususnya dan semua siswa untuk memulai mengembangkan kemampuan dalam berliterasi, dengan diawali membuat cerpen (cerita pendek). Kenapa harus cerpen? Karena cerpen adalah sebuah cerita sederhana yang bersifat fiktif kehidupan yang hanya terbatas pada satu konflik. Kesederhanaan cerpen karena jumlah kata maksimal dari 1000 kata, lebih singkat dan lebih pendek dari novel. Bagi pemula, belajar membuat cerpen bisa diawali dari kisah penulis itu sendiri. Kejadian-kejadian yang pernah dialami dan menjadi sesuatu yang berkesan bisa dijadikan sebuah tulisan. Baik itu kisah percintaan, keluarga ataupun sebuah persahabatan. 

Tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh penulis diantaranya: 

1. Observasi adalah melakukan pengamatan 

Pengamatan ini bisa berupa mengingat kejadian yang pernah penulis alami atau mendengarkan cerita dari orang lain. Dengan observasi ini kita bisa menentukan latar, tema maupun tokoh cerita. 

2. Menentukan tema atau ide cerita 

Ide cerita akan muncul setelah kita melakukan observsi dan menemukan ide yang akan diangkat sebagai cerita 

3. Menentukan latar 

Latar terdiri dari latar tempat, latar waktu dan latar suasana. Melalui hasil observasi dan menemukan tema, penulis bisa memulai membuat latar. Misalnya; latar tempat (di gedung sekolah), latar waktu (reuni), latar suasana (menyenangkan) 

4. Menciptakan dan menentukan tokoh 

Menciptakan atau mennetukan tokoh utama dalam cerpen. Seperti sosok wanita berhijab yang memiliki wajah oriental, mata sipit, alis tebal, dan bibir tipis, dengan senyum manisnya. Bisa digambarkan dengan cerita misalnya; Naura, wanita berwajah oriental, mata yang sipit, alis tebal dan bibir tipisnya, makin terlihat cantik dan memesona. 

5. Menciptakan konflik 

Konflik adalah sebuah pertentangan atau ketegangan yang perlu dimunculkan dalam cerpen. Konflik bisa diangkat dari masalah orang lain atau masalah yang kita dengar. Misalnya menceritakan kembali saat naura bertengkar hebat dengan Aldi, maka yang perlu diangkat adalah penyebab terjadinya konflik. 

6. Menentukan alur 

Untuk mempermudah menuliskan jalannya cerita ke dalam cerpen. Bisa menggunakan alur maju, alur mundur ataupun alut campuran. 

7. Menulis cerpen 

Pada tahap ini, penulis sudah mulai mengembangkan tema yang sudah ditentukan menjadi sebuah cerpen, dengan memerhatikan latar, tokoh, konflik, serta alur. Menggunakan kata-kata sederhana dan komunikatif. Satu hal yang penting bagi penulis pemula adalah; tulis saja apa yang ingin kalian tulis, jadikan paragraph pertama sebagai sesuatu yang mengejutkan/ menghipnotis pembaca sehingga pembaca akan terus membaca cerpen tersebut sebagai jawaban dari rasa penasaran. 

8. Menentukan judul 

Kesan pertama seorang pembaca bisa dimulai dari membaca judul cerpen. Maka menentukan judul yang menarik adalah sangat mutlak diperlukan, sebagai langkah awal memikat pembaca dan memunculkan rasa penasaran pembaca. Judul harus berkaitan dengan tema dan peristiwa-peristiwa pada cerita. 

Apapun bentuk tulisan kalian tetap harus, dipublish agar kita bisa tahu kesalahan-kesalahan dari karya kita. Ingat! Tulisan tidak akan memiliki makna apapun jika orang lain tidak membacanya. Maka mempublish karya kita sebagai langkah awal kita belajar menyepurnakan tulisan kita. Pramoedya Ananta Toer seorang novelis legendaris, menulis sepenggal kata “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tak menulis, Ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah.” Bila kita memahami makna kalimat tersebut, kita bisa melihat sejarah tokoh-tokoh masa lampau yang telah mewariskan karya-karya mereka, karena karya yang ditulis menjadi abadi hingga bisa dibaca oleh banyak orang sepanjang masa. Hal ini berarti bahwa dengan menulis seseorang tidak akan tergerus oleh zaman, nama mereka tetap terukir karena karya-karya mereka yang ditinggalkan. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi bila mereka tidak menulis dan mewariskan pemikiran-pemikiran mereka. Tentu kita tidak akan mengenal mereka dan tentu saja karya-karya mereka akan hilang ditelan perputaran zaman dan tergilas tanpa bekas oleh roda kehidupan. Maka tetaplah menulis, karena dengan menulis kita akan mengukir sejarah kehidupan.() 



Artikel

  MEMILIH SEKOLAH,  BERKELAS   ATAU BERKUALITAS ? ? Oleh : Dra   Farida Hanum M.Pd               Sebentar lagi para orang tua dibuat...